Beranda > TASAWUF (penyucian hati) > PENDAPAT ULAMA TENTANG SUFI

PENDAPAT ULAMA TENTANG SUFI

PENDAHULUAN

Terdapat 3 ilmu agama yang dihukumi wajib ‘ain. Yaitu ilmu TAUHID, ilmu FIQIH. dan ilmu HATI/ TAZKIYATUN NAFS. Jumhur ulama biasa menyebut ilmu hati ini adalah ilmu TASAWUF, jadi jelas di sini ilmu tasawuf adalah ilmu tentang menata hati, bukan ilmu terbang di udara, melayang di air, dsb. Perkara banyak ahli tasawuf yang mampu melakukannya, maka itu adalah kekuasaan Allah pada hambaNya, bukan tujuan dari belajar ilmu tasawuf. Tujuan ilmu tasawuf adalah membersihkan hati..

TIGA LANDASAN UTAMA
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa ketiganya perlu dan wajib ‘ain dipelajari. Tidak bisa hanya belajar tauhid tanpa belajar fiqih, karena tidak akan bisa beribadah dengan benar, demikian juga tidak bisa hanya belajar fiqih tanpa tauhid, demikian juga haram hanya belajar tauhid dan fiqih tanpa mempelajari ilmu hati/ tasawuf, karena meskipun beribadah dengan benar, akan rusak amalnya karena riya, sombong, kikir, dll

Maka ulama mencela orang yang meninggalkan salah satu dari 3 di atas. Ulama mencela sufi tertentu karena beberapa sufi tidak mempelajari fiqih/ syariat, hanya belajar tauhid dan tasawuf. Demikian juga ulama mencela yang hanya belajar syariat/ fiqih tanpa belajar ilmu hati, karena akan rusak amalnya.

Jadi jelas di sini duduk persoalannya mengapa ulama mencela para sufi, yang dimaksud adalah sufi yang tidak belajar syariat. Ulama juga mencela ahli syariat yang tidak belajar tasawuf.

JANGAN MEMOTONG PERKATAAN ULAMA SEMBARANGAN, KARENA AKAN MERUBAH ARTI DAN MENYESATKAN UMAT!

PENDAPAT PARA ULAMA TENTANG TASAWUF/ SUFI

Terdapat golongan yang menolak tasawwuf secara total bahkan ada yang menghukum ahli sufi secara umum sebagai zindiq, sesat dan sebagainya. Dan ada pula yang menggunakan kalam Imam Syafie sebagai modal untuk menolak tasawwuf tanpa melihat kepada penilaian yang adil (iaitu pujian Imam Syafie kepada tasawwuf). Maka di sini kita bawakan pujian para ulama salafussoleh terhadap tasawwuf.

IBNU TAIMIYYAH MEMUJI TASAWWUF (tetapi adakah golongan yang taksub dan taqlid pada Ibnu Taimiyyah menukilkan kalamnya ini?) :

“Orang-orang berselisih mengenai tariqat mereka, ada yang mencela kaum sufi dan tasawwuf, lalu mereka berkata : mereka (kaum sufi) adalah ahli bid’ah dan keluar dari sunnah. Ada juga pandangan yang baik dalam hal ini yang dikutip daripada segolongan Imam atau ulama dan diikuti oleh beberapa ahli feqah dan ilmu kalam. Ada juga sebahagian orang yang berlebihan dalam menganggap mereka sebagai makhluk yang paling mulia setelah para nabi.”

Ibnu Taimiyyah berkata lagi: “DUA PIHAK PERTAMA DAN TERAKHIR ITU TERCELA ”

Beliau menambahkan : Yang benar, “MEREKA ADALAH ORANG YANG BERJUANG ATAU BERIJTIHAD UNTUK MENAATI ALLAH sebagaimana orang-orang yang berijtihad dalam mentaati ALlah.” Di antara mereka ada yang termasuk dalam SABIQIN DAN MUQORROBIN,

Ada juga yang hemat (ashabul yamin) dan ada juga yang menzalimi dirinya serta melanggar perintah (berbuat maksiat kepada) Tuhannya.

Ia juga berkata : Adapun para salikin (kaum sufi) yang lurus seperti halnya Fudhail bin Iyadh, Ibrahim bin Adham, Abu Sulaiman ad Darani, Ma’ruf bin al Karkhi, Sir As Saqathi, Junaid bin MUhammad al Baghdadi dan para pendahulu (mutaqaddimin) lainnnya dan seumpama Syeikh Abdul Qadir al Jailani, Syeikh Hammad dan Sheikh Bayan daripada Ulama kebelakangan (mutaakhirin).
(Majmu’ al Fataawa Ahmad ibn Taimiyah m/s : 516-517) ==> perlu diperhatikan pujian Ibnu Taimiyyah ini terdapat dalam bab 10 tentang sufi dan tasawuf. Maka kita bisa melihat kecurangan orang2 yang memutarbalikkan ilmu. Bab 10 ini dalam cetakan2 sebelumnya masih ada seperti aslinya, tapi dalam cetakan baru sudah DIHILANGKAN.(!) Kecurangan yang meneladani para misionaris Kristen dalam memutar balikkan dalil.

1) Imam Abu Hanifah radiyaLlahu ‘anhu (wafat 150 H) :
Seorang ahli fikir Hanafi, Al Hasfaki radiyaLlahu ‘anhu penulis kitab al Durr al Mukhtar telah mengutip; Bahawa Abu Ali ad Daqqaq radiyaLlahu ‘anhu berkata :

Saya telah mengambil thariqat ini dari Abu al Qasim an Nasr Abadi radiyaLLahu ‘anhu , beliau berkata ; saya mengambilnya dari as Syibili dari as Saqathi dari Ma’ruf al Kharkhi, dari Daud ath Tho’i dan beliau mengambil ilmu sekaligus thariqat dari Imam Abu Hanifah radiyaLlahu ‘anhu. Setiap dari mereka memuji dan mengakui keutamaan Imam Abu Hanifah radiyaLlahu ‘anhu. Kemudian Imam al Hasfaki berpendapat :
“Sungguh aneh sekali..! Bukankah para pembesar ulama itu sebagai teladanmu? Apakah mereka diragukan pengakuan kebanggaannya ? Sedang mereka adalah para imam Thariqat ini sekaligus tokoh syari’ah (feqah) dan thariqat (tasawwuf), dan tokoh yang datang setelahnya dalam perkara ini adalah para pengikutnya, dan setiap orang yang bertolak belakang dengan apa yang mereka pegang itu ditolak dan dianggap bid’ah.

AbduLlah bin al Mubarak radiyaLlahu ‘anhu berkata :
“Tidak seorangpun yang lebih patut menjadi ikutan selain Imam Abu Hanifah kerana beliau sebagai seorang imam yang bertaqwa, bersih, wara’, ‘alim dan faqih, beliau telah dibukakan kasyaf, faham, kecerdasan dan ketaqwaan yang tidak ada pada orang lain.

Imam nawawi mengatakan kepada seorang yang bercerita kepadanya ;
Aku telah datang dari Imam Abu Hanifah, beliau mengatakan : “Engkau telah datang dari penduduk bumi yang sangat ahli ibadah. Daripada sinilah kita dapat mengetahui bahawa para Imam Mujtahid dan ulama yang ‘amilin mereka itu sebenarnya adalah orang-orang sufi”
(Hasyiyah Ibn Abidin m/s 395-396)

2) Imam Malik radiyaLlahu ‘anhu (wafat 179H)
Imam Malik berkata :
“Barangsiapa yang MEMAHAMI FIQIH TANPA BERTASAWUF MAKA FASIQ, dan BARANGSIAPA YANG BERTASAWWUF TANPA MEMAHAMI FIQIH MAKA ZINDIQ dan barangsiapa yang telah menghimpun antara keduanya bererti ia telah merealisasikan kebenaran (Hasyiyah Allamah al Adawi, Sheikh Ali al Adawi jilid 3 m/s 195)

3) Imam Asy Syafie (wafat 204H)
Imam Asy Syafie berkata
” Saya telah suhbah dengan kaum Shufi selama 10 tahun, kemudian hanya mendapatkan pelajaran dua huruf , dalam satu riwayat, imam Syafi’i mendapat 3 ilmu/ tiga ungkapan :

i. Waktu itu umpama pedang, jika engkau tidak menggunakannya maka ia akan menebasmu.
ii. Nafsumu jika tidak kau sibukkan dengan yang haq (benar), maka ia menyibukkanmu dengan bathil (salah).
iii. Rasa ketiadaan daya (merasakan wujud kebesaran ALlah) itu keselamatan (terpelihara) dirimu.

(Tahqiq Haqiqah Aliyah, Sheikh al Hafiz Al Suyuti, m/s 15)

Berkata Imam Syafi’e lagi :
Aku cinta kepada dunia kalian itu tiga :
a) Tidak berlebih-lebihan (sederhana)
b) Bergaul kepada orang dengan lemah lembut.
c) MENELADANI CARA TOKOH-TOKOH BERTASAWUF
(Kasyful Khafa’, Imam Al Ajluni, jld 1, m/s 341)

4) Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 241H)
Pada awalnya sebelum Imam Ahmad bersuhbah (bersahabat) kepada orang shufi berkata kepada puteranya :
“Wahai puteraku berpeganglah kepada Hadith, jauhilah mereka yang menamakan dirinya sufi, kerana boleh salah satu daripada mereka itu seorang yang bodoh terhadap hukum-hukum agama.”

Namun ketika beliau terlah bersuhbah dengan Abu Hamzah al Baghdadi as Sufi dan mengetahui keadaan mereka, beliau berkata kepada puteranya :

“Wahai puteraku, engkau HARUS BERMUJALASAH (duduk bersama-sama) DENGAN KAUM SUFI, karena mereka telah menambahkan ilmu, muraqqabah, takut kepada Allah, zuhud dan ketinggian semangat kita”
(Kasyful Khafa’, Imam al Ajluni, jld 1, m/s 341)

Telah berkata Imam Muhammad as Safaraini al Hanbali daripada Ibrahim bin AbduLlah al Qalansi ; Bahawa Imam Ahmad telah berkata tentang kaum Sufi ;

“AKU TIDAK MENGETAHUI ORANG YANG LEBIH UTAMA DARIPADA MEREKA (SUFI). Lalu ditanyakan; Mereka itu melantunkan nasyid, kemudian saling hanyut diri. Beliau menjawab : “BIARKAN MEREKA BERGEMBIRA SESAAT BERSAMA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA”.
(Manzumatul Adab, jilid 1 m/s 120)

5) Imam Abu AbduLlah al Harits al Muhasibi (wafat 243H)
Dalam kitab al Wasaya merupakan salah satu kitab induk ahli tasawwuf yang diakui, beliau berkata tentang pengalaman mujahadahnya yang pahit untuk mendapat hak (ALLah) sehingga mendapat petunjuk ke jalan Tasawwuf dan pada tokohnya , :
… Maka ALlah menghubungkanku kepada satu golongan hamba-Nya yang aku dapatkan pada mereka tanda-tanda ketaqwaan, wara’ dan pengutamaan kehidupan akhirat atas dunia, seta aku mendapatkan bimbingan dan pesan-pesan mereka yang bersesuaian dengan pendapat para Imam umat…
(Kitab al Wasoya, Imam al Muhasibi, m/s 27-32)

6) Imam al Izz bin Abdus Salam (wafat 660H)
Sultan ulama ‘Izzuddin bin Abdus salam berkata :
“ORANG-ORANG SUFI ITU TELAH MEMBANGUN LANDASAN DI ATAS KAIDAH SYARI’AH YANG TIDAK MENGHANCURKAN DUNIA DAN AKHIRAT. Sedangkan selain mereka berdiri di atas rusum (zahir sahaja). Peristiwa karomah serta khwariqul adat yang terjadi di tangan mereka dapat dijadikan sebagai dalil kebenarannya. HAL ITU BAHAGIAN DARI KEDEKATAN ALLAH SERTA RIDHONYA PADA MEREKA .

7) Imam an Nawawi (wafat 676H)
Imam an Nawawi berkata dalam kitabnya al Maqasid :

Prinsip asas Thariqat Tasawwuf itu ada lima :
- Taqwa kepada Allah di saat sendiri dan bersama orang ramai. Untuk merealisasikan ketaqwaan ini adalah dengan menanamkan sifat wara’ dan istiqamah.
- Mengikuti sunnah dalam perkataan dan perbuatan. Untuk merealisasikannya dengan menjaga (sunnah) dan berakhlaq mulia.
- Berpaling dari makhluk di saat bersama dan berpisah (maksudnya hatinya hanya bergantung kepada Allah dalam susah dan senang). Untuk merealisasikannya dengan menanamkan sabar dan tawakkal.
- Redha kepada Allah kepada yang sedikit dan banyak. Untuk merealisasikan redha kepada Allah dengan menanamkan akhlaq qana’ah dan menyerah diri (tafwidh)
- Kembali kepada Allah dalam susah dan senang. Dan merealisasikannnya dengan memanjatkan puja dan puji dan syukur kepada Allah apabila mengalami kesenangan dan sabar serta mengadu kepada Allah apabila dalam kesulitan.
(Maqasid al Imam an Nawawi fi at Tauhid wa al Ibadah wa Usul at Tasawwuf m/s 20)

Dari:

http://salafytobat.wordpress.com/2010/03/29/pujian-ulama-terhadap-tasawwuf/

==================================================

Saya sampaikan bahwa tulisan ini adalah tanggapan kami terhadap tulisan bahwa SUFI ITU SESAT dari blog:

http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2010/01/07/kesesatan-ajaran-sufi/

Maka entah kenapa jika ingin komentar terhadap tulisan itu, komentar saya  DITUTUP. Sudah dua kali ini ditutup. Padahal saya membawa dalil dari Qur’an, hadits, dan fatwa ulama. Ini adalah perilaku menyembunyikan ilmu. Maka  dicurigai bahwa penulis blog itu menjerumuskan orang yang awam dalam ilmu agama, ia tidak berani berdiskusi kepada orang yang membawa dalil, beraninya hanya mempropaganda kepada orang2 yang awam ilmu agama.

Maka bahaya sekali yang ia lakukan, ia telah mengajak orang untuk berfatwa sesat kepada ribuan-jutaan orang sufi. Padahal kita menyebut satu orang saja sesat (padahal ia tidak sesat), maka kita akan dihukumi oleh Allah sebagai orang yang sesat. Siapa lagi kita meminta pertolongan jika ALlah sudah menyebut kita orang sesat? Maka waspadalah terhadap situs2 semacam ini.

  1. Januari 8, 2013 pukul 3:01 pm

    Trimakasih atas pembelaan terhadap kaum sufi. Saya mewakili para paham sufi mngucapkan banyak rrima kasih atas terbitan saudara

  2. Februari 27, 2012 pukul 2:11 am

    ISI DUNIA INI BERAGAM MESKIPUN AGAMANYA SAMA, PEMAHAMAN SESEORANG TERHADAP AGAMANYA TERGANTUNG MASUKAN YANG IA DAPAT SELAMA IA BELAJAR, LALU MEMIKIRKAN MASUKAN ITU, MERENUNGKAN LALU MENGAMBIL KESIMPULAN YANG PADA AKHIRNYA AKAN KEMBALI KEPADA PRIBADI MASING-MASING.

  3. Juni 9, 2010 pukul 9:23 am

    Imam Malik adalah ulama salaf. Tabi’it tabi’in, karena beliau belajar dari para tabi’in. Dan Imam Abu Hanifah juga Tabi’it Tabi’in dan itulah pendapat mereka.

    Maka adakah kita umat sekarang mengikuti golongan salaf… atau menentangnya seraya memotong sebagian dan mendustakan fatwa mereka…

  4. dokter Anak
    Juni 8, 2010 pukul 2:53 pm

    Ada kajian di Masjid Al Furqon, timur UNS,tiap Selasa. cobalah hadir dan berbincang dengan pemberi materi disana bila berkenan. atau buka website Islam:www.muslim.or.id

    Dalam melaksanakan setiap ibadah ada 2 hal yang harus dipenuhi : ikhlas dan ittiba’ (sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasul). Tidak ada cara lain untuk kita bisa mengikuti apa yang diajarkankan Rasul kecuali mengikuti sahabat(yang jelas2 diajari oleh Rasululloh) dan orang2 yang mengikutinya(sahabat) sepeninggalnya.

    Ilmu dien atau fiqih tidak bisa diambil dari kemantapan hati nurani, atau pendapat orang perorang, kecuali dari yang orang yang mengikuti ulama terdahulu (generasi sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in karena mereka adalah generasi terbaik umat ini…saya lupa haditsnya). Itupun jika kita mengambil pendapatnya, kita harus berusaha mencari dasar hadits&atsar sahabat tentang pendapat tersebut. Dikhawatirkan jika mengikuti pendapat orang perorang atau hati nurani, seringnya dipengaruhi oleh hawa nafsu, mengambil yang cocok dan melupakan yang tidak cocok atau sesuai dengan hati nurani kita.

    • Juni 9, 2010 pukul 10:18 am

      Saya faham maksud Anda. :)

      Sayangnya orang yang sering mengajak kepada orang lain untuk mengikuti manhaj salaf. Kadang mereka ini hakikatnya tidak mengikuti manhaj salaf. Hanya mengikuti pendapatnya sendiri.

      Maka jika ada nash yang lebih kuat yang bertentangan dengan pendapat mereka, mereka menolaknya. Bisa menghapusnya, membloknya, dsb. Contoh nyata adalah yang sudah beberapa kali saya alami. Jika ingin komentar terhadap tulisan mereka, komentar saya DITUTUP, DIHAPUS. Kadang saya di blacklist tidak bisa komentar lagi. Orang2 yang komentarnya kasar dan tidak pantas (tapi tidak membawa dalil), tidak dihapus. Tapi komentar saya dihapus. Padahal saya membawa dalil dari Qur’an, hadits, dan fatwa ulama. Ini adalah perilaku menyembunyikan ilmu. Maka dicurigai bahwa orang2 seperti itu menjerumuskan orang yang awam dalam ilmu agama, ia tidak berani berdiskusi kepada orang yang membawa dalil, beraninya hanya mempropaganda kepada orang2 yang awam ilmu agama.

      Bahkan benar-benar terjadi, kitab2 klasik karya ulama terdahulu dipalsu isinya untuk mendukung pendapat mereka.

      • project
        Maret 21, 2012 pukul 1:07 am

        Pada awalnya saya berpikir di dunia nyata saja sudah cukup membuat pusing dengan adanya orang-orang yang saling menjelekkan, ternyata di dunia maya yang rata2 saling memvonis, menjelekkan, bahkan saling mengejek, membuat saya sadar dengan realitas kehidupan yang memang sudah Allah bilang “Jikalau menghendaki Tuhan engkau sungguh akan menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa orang-orang yang berselisih, kecuali orang yg dirahmati Tuhan engkau. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.(……)” [Q.S.Hud:118-119]

        Sebaiknya kita memang lebih fokus pada perbaikan diri karena kabar datangnya Imam Mahdi harusnya mendorong kita mengambil pelajaran dari keingkaran Ahli Kitab tatkala Allah mendatangkan Rasulullah Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam, padahal sebelum kedatangannya mereka menunggu-nunggu. Salah satu penyebabnya Allah bilang “(…)telah berlalu atas mereka masa yang panjang, maka mengeras qulub mereka(…)” [Q.S.Al-Hadiid:16]

        Insya Allah dengan lebih banyak koreksi diri dan seruan kepada Allah dan sunnah Rasulullah juga lebih kita fokuskan pada orang2 yang masih awam tadi, mudah-mudahan Allah akan mempersatukan orang-orang beriman dalam satu jama’ah yaitu jama’ah kaum muslimin seluruh dunia dibawah SATU kepemimpinan KHALIFAH.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: