Beranda > FIQIH (tatacara ibadah dan hukum agama), TAUHID (keimanan) > Tahlilan Menurut Hadits Shahih dan Ulama Salaf

Tahlilan Menurut Hadits Shahih dan Ulama Salaf

Pada hakikatnya majelis tahlil atau tahlilan adalah hanya nama atau sebutan untuk
sebuah acara di dalam berdzikir dan berdoa atau bermunajat bersama. Yaitu
berkumpulnya sejumlah orang untuk berdoa atau bermunajat kepada Allah SWT
dengan cara membaca kalimat-kalimat thayyibah seperti tahmid, takbir, tahlil, tasbih,
Asma’ul husna, shalawat dan lain-lain.

Maka sangat jelas bahwa majelis tahlil sama dengan majelis dzikir, hanya istilah atau
namanya saja yang berbeda namun hakikatnya sama. (Tahlil artinya adalah lafadh Laa
ilaaha illallah) Lalu bagaimana hukumnya mengadakan acara tahlilan atau dzikir dan
berdoa bersama yang berkaitan dengan acara kematian untuk mendoakan dan
memberikan hadiah pahala kepada orang yang telah meninggal dunia ? Dan apakah
hal itu bermanfaat atau tersampaikan bagi si mayyit ?

Menghadiahkan Fatihah, atau Yaasiin, atau dzikir, Tahlil, atau shadaqah, atau Qadha
puasanya dan lain lain, itu semua sampai kepada Mayyit, dengan Nash yang Jelas
dalam Shahih Muslim hadits no.1149, bahwa “seorang wanita bersedekah untuk
Ibunya yang telah wafat dan diperbolehkan oleh Rasul saw”, dan adapula riwayat
Shahihain Bukhari dan Muslim bahwa “seorang sahabat menghajikan untuk Ibunya
yang telah wafat”, dan Rasulullah SAW pun menghadiahkan Sembelihan Beliau SAW
saat Idul Adha untuk dirinya dan untuk ummatnya, “Wahai Allah terimalah sembelihan
ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari Ummat Muhammad” (Shahih
Muslim hadits no.1967).

Dan hal ini (pengiriman amal untuk mayyit itu sampai kepada mayyit) merupakan
Jumhur (kesepakatan) Ulama seluruh madzhab dan tak ada yang memungkirinya
apalagi mengharamkannya, dan perselisihan pendapat hanya terdapat pada madzhab
Imam Syafi’i, bila si pembaca tak mengucapkan lafadz : “Kuhadiahkan”, atau wahai
Allah kuhadiahkan sedekah ini, atau dzikir ini, atau ayat ini..”, bila hal ini tidak
disebutkan maka sebagian Ulama Syafi’iy mengatakan pahalanya tak sampai.

Jadi tak satupun ulama ikhtilaf dalam sampai atau tidaknya pengiriman amal untuk
mayiit, tapi berikhtilaf adalah pada Lafadznya. Demikian pula Ibn Taimiyyah yang
menyebutkan 21 hujjah (dua puluh satu dalil) tentang Intifa’ min ‘amalilghair (mendapat
manfaat dari amal selainnya). Mengenai ayat : “DAN TIADALAH BAGI SESEORANG
KECUALI APA YG DIPERBUATNYA, maka Ibn Abbas ra menyatakan bahwa ayat ini
telah mansukh dengan ayat “DAN ORANG ORANG YG BERIMAN YG DIIKUTI
KETURUNAN MEREKA DENGAN KEIMANAN”,

Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa barang siapa mengingkari sampainya amalan orang hidup pada orang yang meninggal maka ia termasuk ahli bid’ah. Dalam Majmu’ fatawa juz 24 hal306 ia menyatakan, “Para imam telah sepakat bahwa mayit bisa mendapat manfaat dari hadiah pahala orang lain. Ini termasuk hal yang pasti diketahui dalam agama islam dan telah ditunjukkan dengan dalil kitab, sunnah dan ijma’ (konsensus ulama’). Barang siapa menentang hal tersebut maka ia termasuk ahli bid’ah”.

Lebih lanjut pada juz 24 hal 366 Ibnu Taimiyah menafsirkan firman Allah “dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS an-Najm [53]: 39) ia menjelaskan, Allah tidak menyatakan bahwa seseorang tidak bisa mendapat manfaat dari orang lain, Namun Allah berfirman, seseorang

hanya berhak atas hasil usahanya sendiri. Sedangkan hasil usaha orang lain adalah hak orang lain. Namum demikian ia bisa memiliki harta orang lain apabila dihadiahkan kepadanya.

Begitu pula pahala, apabila dihadiahkan kepada si mayyit maka ia berhak menerimanya seperti dalam solat jenazah dan doa di kubur. Dengan demikian si mayit berhak atas pahala yang dihadiahkan oleh kaum muslimin, baik kerabat maupun orang lain”

Dalam kitab Ar-Ruh hal 153-186 Ibnul Qayyim membenarkan sampainya pahala kepada orang yang telah meninggal. Bahkan tak tangung-tanggung Ibnul Qayyim menerangkan secara panjang lebar sebanyak 33 halaman tentang hal tersebut.
Mengenai hadits yang mengatakan bahwa bila wafat keturunan adam, maka
terputuslah amalnya terkecuali 3 (tiga), shadaqah Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan
anaknya yang berdoa untuknya, maka orang orang lain yang mengirim amal, dzikir dll
untuknya ini jelas jelas bukanlah amal perbuatan si mayyit, karena Rasulullah SAW
menjelaskan terputusnya amal si mayyit, bukan amal orang lain yang dihadiahkan
untuk si mayyit, dan juga sebagai hujjah bahwa Allah memerintahkan di dalam Al
Qur’an untuk mendoakan orang yang telah wafat : “WAHAI TUHAN KAMI AMPUNILAH
DOSA-DOSA KAMI DAN BAGI SAUDARA-SAUDARA KAMI YG MENDAHULUI KAMI
DALAM KEIMANAN”, (QS Al Hasyr-10).

Mengenai rangkuman tahlilan itu, tak satupun Ulama dan Imam Imam yang
memungkirinya, siapa pula yang memungkiri muslimin berkumpul dan berdzikir?,
hanya syaitan yang tak suka dengan dzikir.

Didalam acara Tahlil itu terdapat ucapan Laa ilaah illallah, tasbih, shalawat, ayat
qur’an, dirangkai sedemikian rupa dalam satu paket dengan tujuan agar semua orang
awam bisa mengikutinya dengan mudah, ini sama saja dengan merangkum Al Qur’an
dalam disket atau CD, lalu ditambah pula bila ingin ayat Fulani, silahkan Klik awal ayat,
bila anda ingin ayat azab, klik a, ayat rahmat klik b, maka ini semua dibuat buat untuk
mempermudah muslimin terutama yang awam. Atau dikumpulkannya hadits Bukhari,
Muslim, dan Kutubussittah, Alqur’an dengan Tafsir Baghawi, Jalalain dan Ilmu
Musthalah, Nahwu dll, dalam sebuah CD atau disket, atau sekumpulan kitab, bila
mereka melarangnya maka mana dalilnya ?,

Munculkan satu dalil yang mengharamkan acara Tahlil?, (acara berkumpulnya
muslimin untuk mendoakan yang wafat) tidak di Al Qur’an, tidak pula di Hadits, tidak
pula di Qaul Sahabat, tidak pula di kalam Imamulmadzahib, hanya mereka saja yang
mengada ada dari kesempitan pemahamannya.

Mengenai 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, atau bahkan tiap hari, tak ada dalil
yang melarangnya, itu adalah Bid’ah hasanah yang sudah diperbolehkan oleh
Rasulullah saw, justru kita perlu bertanya, ajaran muslimkah mereka yang melarang
orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, siapa yang alergi dengan suara Laa ilaaha
illallah kalau bukan syaitan dan pengikutnya ?, siapa yang membatasi orang
mengucapkan Laa ilaaha illallah?, muslimkah?, semoga Allah memberi hidayah pada
muslimin, tak ada larangan untuk menyebut Laa ilaaha illallah, tak pula ada larangan
untuk melarang yang berdzikir pada hari ke 40, hari ke 100 atau kapanpun, pelarangan
atas hal ini adalah kemungkaran yang nyata.

Bila hal ini dikatakan merupakan adat orang hindu, maka bagaimana dengan
computer, handphone, mikrofon, dan lainnya yang merupakan adat orang kafir, bahkan
mimbar yang ada di masjid masjid pun adalah adat istiadat gereja, namun selama hal
itu bermanfaat dan tak melanggar syariah maka boleh boleh saja mengikutinya,
sebagaimana Rasul saw meniru adat yahudi yang berpuasa pada hari 10 muharram,
bahwa Rasul saw menemukan orang yahudi puasa dihari 10 muharram karena mereka
tasyakkur atas selamatnya Musa as, dan Rasul saw bersabda : Kami lebih berhak dari
kalian atas Musa as, lalu beliau saw memerintahkan muslimin agar berpuasa pula” (HR
Shahih Bukhari hadits no.3726, 3727).

Sebagaimana pula diriwayatkan bahwa Imam Masjid Quba di zaman Nabi saw, selalu
membaca surat Al Ikhlas pada setiap kali membaca fatihah, maka setelah fatihah maka
ia membaca AL Ikhlas, lalu surat lainnya, dan ia tak mau meninggalkan surat al ikhlas
setiap rakaatnya, ia jadikan Al Ikhlas sama dengan Fatihah hingga selalu
berdampingan disetiap rakaat, maka orang mengadukannya pada Rasul saw, dan ia
ditanya oleh Rasul saw : Mengapa kau melakukan hal itu?, maka ia menjawab : Aku
mencintai surat Al Ikhlas. Maka Rasul saw bersabda : Cintamu pada surat Al ikhlas
akan membuatmu masuk sorga” (Shahih Bukhari).

Maka tentunya orang itu tak melakukan hal tsb dari ajaran Rasul saw, ia membuat
buatnya sendiri karena cintanya pada surat Al Ikhlas, maka Rasul saw tak
melarangnya bahkan memujinya.

Kita bisa melihat bagaimana para Huffadh (Huffadh adalah Jamak dari Al hafidh, yaitu
ahli hadits yang telah hafal 100.000 hadits (seratus ribu) hadits berikut sanad dan
hukum matannya) dan para Imam imam mengirim hadiah pada Rasul saw :

.
Berkata Imam Alhafidh Al Muhaddits Ali bin Almuwaffiq rahimahullah : “aku 60 kali
melaksanakan haji dengan berjalan kaki, dan kuhadiahkan pahala dari itu 30 haji
untuk Rasulullah saw”.
.
Berkata Al Imam Alhafidh Al Muhaddits Abul Abbas Muhammad bin Ishaq
Atssaqafiy Assiraaj : “aku mengikuti Ali bin Almuwaffiq, aku lakukan 7X haji yang
pahalanya untuk Rasulullah saw dan aku menyembelih Qurban 12.000 ekor untuk
Rasulullah saw, dan aku khatamkan 12.000 kali khatam Alqur’an untuk Rasulullah
saw, dan kujadikan seluruh amalku untuk Rasulullah saw”.
.
Ia adalah murid dari Imam Bukhari rahimahullah, dan ia menyimpan 70 ribu
masalah yang dijawab oleh Imam Malik, beliau lahir pada 218 H dan wafat pada
313H
.
Berkata Al Imam Al Hafidh Abu Ishaq Almuzakkiy, aku mengikuti Abul Abbas dan
aku haji pula 7X untuk rasulullah saw, dan aku mengkhatamkan Alqur’an 700 kali
khatam untuk Rasulullah saw. (Tarikh Baghdad Juz 12 hal 111).
Walillahittaufiq

Dari: http://www.majelisrasulullah.org

  1. rahmat santoso
    Juli 15, 2014 pukul 9:44 am

    maaf untuk sdr muhamad@ Allah memerintahkan bersholawat, setiap perintah pasti ada tata caranya, baca tafsirnya ya jgn cuma terjemahanya saja.

  2. Omar
    Februari 11, 2014 pukul 2:42 pm

    Kalian artikan sendiri apa yang kalian baca, jangan gunakan fanatik anda pada lembaga agama dan tradisi tertentu untuk menyetujuinya, gunakan akal anda untuk mencernanya,, apakah itu benar ada dalam al qur’an atau hadits atau tidak ada,, semoga allah memberikan penjelasan mengenai apa yang kalian perselisihkan.,

  3. Alyamani 12
    Januari 29, 2014 pukul 6:40 pm

    Subhanallah…….kembalikan ke hati masing dan kadar ilmu kita saudaraku……..coba baca salah satu hadits arba’in Imam Nawawi, tentang apa itu Kebaikan dan apa itu dosa. Ingat saudaraku, yang model begini yang diharapkan terjadi oleh para orientalis barat, kita saling hujat. ingat saudaraku, fitnah Dajjal sungguh sangat dahsat…….semua yang kita debatkan disini adalah persoalan khilafiah,Jangankan potongan kita saudaraku, Ulama-ulama kita saja masih berbda pemahaman soal yang beginian, jadi ayo kita ikuti kata ulama yang menurut kita benar, sebab Para Ulama/Wali adalah pewaris Para Nabi. Seandainya tidak ada para ulama niscaya akan semakin kaburlah pemahaman kita tentang Islam, sebab tidak semua Nas/dalil yang dapat langsung kita pahami, perlu ada bantuan ulama kita yang memperjelaskan apa maksudnya. dan kewajiban kita orang awwan untuk mendengar dann mengikuti para Ulama, sebab Rasulullah pernah bersabda : sesungguhnya para ulama tidak akan mungkin sepakat dalam keburukan/kemaksiatan. Kecuali kita sudah memiliki ilmu seperti ulama bolehlah langsung melaksanakan apa yang terkandung dalam nas/dalil.Sekali lagi jangan kita mengabaikan pendapat para ulama, mengikuti ulama sama artinya kita telah megikuti Rasulullah SAW.
    Coba apa arti pewaris……..nah kalau kita sudah maklum dengan maksud Pewaris, niscaya kita akan dapat saling menghormati pendapat yang lain yang berbeda dengan kita. Adakah dalam sejarah ketika Imam Syafii Ra, berbeda pendapat dengan Imam Abu Hanifah atau hambali serta merta mengatakan yang lain ahli bid’ah atau sesat ?????Hanya kita saudaraku yang bukan Mujtahid, bukan ulama yang sering panas dada manakala ada saudara kita yang bebrbeda dengan kita. Jadi kalau masih ada dalam hati atau ucapan kita yang mengatakan saudara lain fasik, ahli bid’ah atau sebuatan buruk lain itu tanda nya keimanan kita masih perlu dipertayakan. Banyak ustad-ustad zaman sekrang yang bergelar LC atau MA dll berani mengatakan ulama-ulama terdahulu keliru atau secara tidak langsung mengatakan telah mengajarkan Bid’ah dll, Jadi Yok kita perkuat barisan kita, musuh Islam sedang mengintai dan bersorak gembira melihat sesama umat Islam saling Hujat dan klaim-mengklaim ” Pendapat kami yang benar “Semoga jadi renungan kita semua, terutama sekali buat ustad-ustad muda kita, Tidak akan pernah dijumpai suatu zaman yang LEBIH BAIK dari zaman sebelumnya ( Kata Rasul kita ), Ulama -ulama kita yang dulu sangat Ikhlas dan penuh keimanan mempelajarai dan mengajarkan Islam, sudahkah ustad-ustad kita yang banyak muncul di TV-TV ( Rodja, dll ) ” IKHLAS ” ???????

  4. Alyamani 12
    Januari 29, 2014 pukul 6:05 pm

    Saudaraku semua, kita semua benar, jika menurut kita tahlilal baik ayo lakukan dengan mengharap ridlo Allah, jika menurut kita itu tidak benar, ya tinggalkan, karena keduanya punya dalil yang dari segi pemahaman setiap kepala beda. ayo kita belajar memepelajari apa kata ulama-ulama kita, yang mengatakan tahlilan baik banyak ulama kaliber, yang sebaliknya pun demikian, jadi persoalan khilafiyah sudaraku……selama kita belum menjamin kita pasti masuk surga, berbuatlah menurut kita baik ( berdasarkan ilmu yang kita miliki atau kita dengar dari guru-guu terpercaya kita ). Hanya saja mohon maaf ” Tahlil ” itu bacaan Laailaha Illallah….kegiatan membaca Laailaha Illallah namanya Tahlilan, mungkin saja disetiap negra beda namanya, namun kandungan kegiatannya sama. Ingat ngga saat malam Idul Fitri kenapa disebut malam Takbiran…..????karena ada bacaan Takbir Allahuakbar. Jadi ayo kita belajar lagi

  5. ipu
    Desember 16, 2013 pukul 1:52 pm

    langit dan bumi juga termasuk bid’ah, saudara-saudara. coba cek albaqoroh 117. hehe.

  6. yunengsihcahya
    Mei 29, 2013 pukul 3:22 pm

    Klo ga faham ga usah berkomentar.

  7. Ahmad Syafei
    Mei 16, 2013 pukul 12:23 am

    kalau mnrt saya org yang sangat minim ilmu menganggap bahwa tahlilan , yasinan dll itu sah sah saja kita laksanakan ok gak mau juga gpp . saya anggap itu bukan bid’ah . Saya percaya bahwa berzikir kpd allah itu sangat baik dan apabila kita menghadiahkan itu kpd yang sudah meninggal itu mmg benar adanya . Jangan terlalu ruwet kalau anda percaya jalankan kalau tidak yha tidak usah. Setiap org punya keyakinan dan kepercayaan dalam diri masing masing. Jgn bilang yasinan tahlilan itu kena azab allah . Anda melihat islam itu scr logika saja . hal hal spt ini adalah sdh keyakinan . YAng mau kerjakan yang tidak yha sudah gitu aja kok rempong

    • Danny
      Juli 25, 2013 pukul 12:48 pm

      Oleh: Suhadi

      Perintis, pelopor dan pembuka pertama penyiaran serta pengembangan Islam di Pulau Jawa adalah para ulama/mubaligh yang berjumlah sembilan, yang populer dengan sebuatan Wali Songo. Atas perjuangan mereka, berhasil mendirikan sebuah kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa yang berpusat di Demak, Jawa Tengah.

      Para ulama yang sembilan dalam menyiarkan dan mengembangkan Islam di tanah Jawa yang mayoritas penduduknya beragama Hindu dan Budha mendapat kesulitan dalam membuang adat istiadat upacara keagamaan lama bagi mereka yang telah masuk Islam.

      Para ulama yang sembilan (Wali Songo) dalam menangguangi masalah adat istiadat lama bagi mereka yang telah masuk Islam terbagi menjadi dua aliran yaitu ALIRAN GIRI dan ALIRAN TUBAN.

      ALIRAN GIRI adalah suatu aliran yang dipimpin oleh Raden Paku (Sunan Giri) dengan para pendukung Raden Rahmat (Sunan Ampel), Syarifuddin (Sunan Drajat) dan lain-lain.

      Aliran ini dalam masalah ibadah sama sekali tidak mengenal kompromi dengan ajaran Budha, Hindu, keyakinan animisme dan dinamisme. Orang yang dengan suka rela masuk Islam lewat aliran ini, harus mau membuang jauh-jauh segala adat istiadat lama yang bertentangan dengan syari’at Islam tanpa reserve. Karena murninya aliran dalam menyiarkan dan mengembangkan Islam, maka aliran ini disebut ISLAM PUTIH.

      Adapun ALIRAN TUBAN adalah suatu aliran yang dipimpin oleh R.M. Syahid (Sunan Kalijaga) yang didukung oleh Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Djati.

      Aliran ini sangat moderat, mereka membiarkan dahulu terhadap pengikutnya yang mengerjakan adat istiadat upacara keagamaan lama yang sudah mendarah daging sulit dibuang, yang penting mereka mau memeluk Islam. Agar mereka jangan terlalu jauh menyimpang dari syari’at Islam. Maka para wali aliran Tuban berusaha agar adat istiadat Budha, Hindu, animisme dan dinamisme diwarnai keislaman. Karena moderatnya aliran ini maka pengikutnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan pengikut aliran Giri yang “radikal”. aliran ini sangat disorot oleh aliran Giri karena dituduh mencampur adukan syari’at Islam dengan agama lain. Maka aliran ini dicap sebagai aliran Islam abangan.

      Dengan ajarah agama Hindu yang terdapat dalam Kitab Brahmana. Sebuah kitab yang isinya mengatur tata cara pelaksanaan kurban, sajian-sajian untuk menyembah dewa-dewa dan upacara menghormati roh-roh untuk menghormati orang yang telah mati (nenek moyang) ada aturan yang disebut Yajna Besar dan Yajna Kecil.

      Yajna Besar dibagi menjadi dua bagian yaitu Hafiryayajna dan Somayjna. Somayjna adalah upacara khusus untuk orang-orang tertentu. Adapun Hafiryayajna untuk semua orang.
      Somayajna adalah upacara khusus untuk orang-orang tertentu. Adapun Hafiryayajna untuk semua orang.

      Hafiryayajna terbagi menjadi empat bagian yaitu : Aghnidheya, Pinda Pitre Yajna, Catur masya, dan Aghrain. Dari empat macam tersebut ada satu yang sangat berat dibuang sampai sekarang bagi orang yang sudah masuk Islam adalah upacara Pinda Pitre Yajna yaitu suatu upacara menghormati roh-roh orang yang sudah mati.

      Dalam upacara Pinda Pitre Yajna, ada suatu keyakinan bahwa manusia setelah mati, sebelum memasuki karman, yakni menjelma lahir kembali kedunia ada yang menjadi dewa, manusia, binatang dan bahkan menjelma menjadi batu, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain sesuai dengan amal perbuatannya selama hidup, dari 1-7 hari roh tersebut masih berada dilingkungan rumah keluarganya. Pada hari ke 40, 100, 1000 dari kematiannya, roh tersebut datang lagi ke rumah keluarganya. Maka dari itu, pada hari-hari tersebut harus diadakan upacara saji-sajian dan bacaan mantera-mantera serta nyanyian suci untuk memohon kepada dewa-dewa agar rohnya si fulan menjalani karma menjadi manusia yang baik, jangan menjadi yang lainnya.

      Pelaksanaan upacara tersebut diawali dengan aghnideya, yaitu menyalakan api suci (membakar kemenyan) untuk kontak dengan para dewa dan roh si fulan yang dituju. Selanjutnya diteruskan dengan menghidangkan saji-sajian berupa makanan, minuman dan lain-lain untuk dipersembahkan ke para dewa, kemudian dilanjutkan dengan bacaan mantra-mantra dan nyanyian-nyanyian suci oleh para pendeta agar permohonannya dikabulkan.*1

      Musyawarah Para Wali*2

      Pada masa para wali dibawah pimpinan Sunan Ampel, pernah diadakan musyawarah antara para wali untuk memecahkan adat istiadat lama bagi orang yang telah masuk Islam. Dalam musyawarah tersebut Sunan Kali Jaga selaku Ketua aliran Tuban mengusulkan kepada majlis musyawarah agar adat istiadat lama yang sulit dibuang, termasuk didalamnya upacara Pinda Pitre Yajna dimasuki unsur keislaman.

      Usulan tersebut menjadi masalah yang serius pada waktu itu sebab para ulama (wali) tahu benar bahwa upacara kematian adat lama dan lain-lainnya sangat menyimpang dengan ajaran Islam yang sebenarnya.

      Mendengar usulan Sunan Kali Jaga yang penuh diplomatis itu, Sunan Ampel selaku penghulu para wali pada waktu itu dan sekaligus menjadi ketua sidang/musyawarah mengajukan pertanyaan sebagai berikut :

      “Apakah tidak dikhawatirkan dikemudian hari?, bahwa adat istiadat lama itu nanti akan dianggap sebagai ajaran Islam, sehingga kalau demikian nanti apakah hal ini tidak akan menjadikan bid’ah”?.
      Pertanyaan Sunan Ampel tersebut kemudian dijawab oleh Sunan Kudus sebagai berikut :

      “Saya sangat setuju dengan pendapat Sunan Kali Jaga”

      Sekalipun Sunan Ampel, Sunan Giri, dan Sunan Drajat sangat tidak menyetujui, akan tetapi mayoritas anggota musyawarah menyetujui usulan Sunan Kali Jaga, maka hal tersebut berjalan sesuai dengan keinginannya. Mulai saat itulah secara resmi berdasarkan hasil musyawarah, upacara dalam agama Hindu yang bernama Pinda Pitre Yajna dilestarikan oleh orang-orang Islam aliran Tuban yang kemudian dikenal dengan nama nelung dino, mitung dina, matang puluh, nyatus, dan nyewu.

      Dari akibat lunaknya aliran Tuban, maka bukan saja upacara seperti itu yang berkembang subur, akan tetapi keyakinan animisme dan dinamisme serta upacara-upacara adat lain ikut berkembang subur. Maka dari itu tidaklah heran muridnya Sunan Kali Jaga sendiri yang bernama Syekh Siti Jenar merasa mendapat peluang yang sangat leluasa untuk mensinkritismekan ajaran Hindu dalam Islam. Dari hasil olahannya, maka lahir suatu ajaran klenik/aliran kepercayaan yang berbau Islam. Dan tumbuhlah apa yang disebut “Manunggaling Kaula Gusti” yang artinya Tuhan menyatu dengan tubuhku. Maka tatacara untuk mendekatkan diri kepada Allah lewat shalat, puasa, zakat, haji dan lain sebagainya tidak usah dilakukan.

      Sekalipun Syekh Siti Jenar berhasil dibunuh, akan tetapi murid-muridnya yang cukup banyak sudah menyebar dimana-mana. Dari itu maka kepercayaan seperti itu hidup subur sampai sekarang.

      Keadaan umat Islam setelah para wali meninggal dunia semakin jauh dari ajaran Islam yang sebenarnya. para Ulama aliran Giri yang terus mempengaruhi para raja Islam pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk menegakkan syari’at Islam yang murni mendapat kecaman dan ancaman dari para raja Islam pada waktu itu, karena raja-raja Islam mayoritas menganut aliran Tuban. Sehingga pusat pemerintahan kerajaan di Demak berusaha dipindahkan ke Pajang agar terlepas dari pengaruh para ulama aliran Giri.

      Pada masa kerajaan Islam di Jawa, dibawah pimpinan raja Amangkurat I, para ulama yang berusaha mempengaruhi keraton dan masyarakat, mereka ditangkapi dan dibunuh/dibrondong di lapangan Surakarta sebanyak 7.000 orang ulama. Melihat tindakan yang sewenang-wenang terhadap ulama aliran Giri itu, maka Trunojoyo, Santri Giri berusaha menyusun kekuatan untuk menyerang Amangkurat I yang keparat itu.

      Pada masa kerajaan dipegang oleh Amangkurat II sebagai pengganti ayahnya, ia membela, dendam terhadap Truno Joyo yang menyerang pemerintahan ayahnya. Ia bekerja sama dengan VOC menyerang Giri Kedaton dan semua upala serta santri aliran Giri dibunuh habis-habisan, bahkan semua keturunan Sunan Giri dihabisi pula. Dengan demikian lenyaplah sudah ulama-ulama penegak Islam yang konsekwen. Ulama-ulama yang boleh hidup dimasa itu adalah ulama-ulama yang lunak (moderat) yang mau menyesuaikan diri dengan keadaan masyarakat yang ada. maka bertambah suburlah adat-istiadat lama yang melekat pada orang-orang Islam, terutama upacara adat Pinde Pitre Yajna dalam upacara kematian.

      Keadaan yang demikian terus berjalan berabad-abad tanpa ada seorang ulamapun yang muncul untuk mengikis habis adat-istiadat lama yang melekat pada Islam terutama Pinda Pitre Yajna. Baru pada tahun 1912 M, muncul seorang ulama di Yogyakarta bernama K.H. Ahmad Dahlan yang berusaha sekuat kemampuannya untuk mengembalikan Islam dari sumbernya yaitu Al Qur’an dan As Sunnah, karena beliau telah memandang bahwa Islam dalam masyrakat Indonesia telah banyak dicampuri berbagai ajaran yang tidak berasal dari Al Qur’an dan Al Hadits, dimana-mana merajalela perbuatan khurafat dan bid’ah sehingga umat Islam hidup dalam keadaan konservatif dan tradisional.

      Munculnya K.H. Ahmad Dahlan bukan saja berusaha mengikis habis segala adat istiadat Budha, Hindu, animisme, dinamisme yang melekat pada Islam, akan tetapi juga menyebarkan fikiran-fikiran pembaharuan dalam Islam, agar umat Islam menjadi umat yang maju seperti umat-umat lain. Akan tetapi aneh bin ajaib, kemunculan beliau tersebut disambut negatif oleh sebagian ulama itu sendiri, yang ternyata ulama-ulama tersebut adalah ulama-ulama yang tidak setuju untuk membuang beberapa adat istiadat Budha dan Hindu yang telah diwarnai keislaman yang telah dilestarikan oleh ulama-ulama aliran Tuban dahulu, yang antara lain upacara Pinda Pitre Yajna yang diisi nafas Islam, yang terkenal dengan nama upacara nelung dina, mitung dina, matang dina, nyatus, dan nyewu.

      Pada tahun 1926 para ulama Indonesia bangkit dengan didirikannya organisasi yang diberi nama “Nahdhatul Ulama” yang disingkat NU. Pada muktamarnya di Makasar NU mengeluarkan suatu keputusan yang antara lain :

      “Setiap acara yang bersifat keagamaan harus diawali dengan bacaan tahlil yang sistimatikanya seperti yang kita kenal sekarang di masyarakat”.

      Keputusan ini nampaknya benar-benar dilaksanakan oleh orang NU. Sehingga semua acara yang bersifat keagamaan diawali dengan bacaan tahlil, termasuk acara kematian. Mulai saat itulah secara lambat laun upacara Pinda Pitre Yajna yang diwarnai keislaman berubah nama menjadi tahlilan sampai sekarang.

      Sesuai dengan sejarah lahirnya tahlilan dalam upacara kematian, maka istilah tahlilan dalam upacara kematian hanya dikenal di Jawa saja. Di pulau-pulau lain seluruh Indonesia tidak ada acara ini. Seandainya ada pun hanya sebagai rembesan dari pulau Jawa saja. Apalagi di negara-negara lain seperti Arab, Mesir, dan negara-negara lainnnya diseluruh dunia sama sekali tidak mengenal upacara tahlilan dalam kematian ini.

      Dengan sudah mengetahui sejarah lahirnya tahlilan dalam upacara kematian yang terurai diatas, maka kita tidak akan lagi mengatakan bahwa upacara kematian adalah ajaran Islam, bahkan kita akan bisa mengatakan bahwa orang yang tidak mau membuang upacara tersebut berarti melestarikan salah satu ajaran agama Hindu. Orang-orang Hindu sama sekali tidak mau melestarikan ajaran Islam, bahkan tidak mau kepercikan ajaran Islam sedikitpun. Tetapi kenapa kita orang Islam justru melestarikan keyakinan dan ajaran mereka.

      Tak cukupkah bagi kita Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yg sudah jelas terang benderang saja yang kita kerjakan. Kenapa harus ditambah-tambahin/mengada-ada. Mereka beranggapan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masih kurang sempurna.

      Mudah-mudahan setelah kita tahu sejarah lahirnya tahlilan dalam upacara kematian, kita mau membuka hati untuk menerima kebenaran yang hakiki dan kita mudah-mudahan akan menjadi orang Islam yang konsekwen terhadap ajaran Allah dan Rasul-Nya.

      Ada satu hal yang perlu kita jaga baik-baik, jangan sekali-kali kita berani mengatakan bahwa orang yang matinya tidak ditahlil adalah kerbau. Menurut penulis, perkataan seperti ini termasuk dosa besar, karena berarti Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya serta kaum muslimin seluruh dunia selain orang pulau Jawa yang matinya tidak ditahlili adalah kerbau semua.

      Na’udzu billahi mindzalik

  8. 456
    April 17, 2013 pukul 8:50 am

    saya setuju dengan komentar @yusnira
    hal yang sama yang aku yakini, SEKARANG BEGINI, sebagai gambaran :
    sya mau tanya apakah di negara lain pakstan, palestina, terutama di arab, ada / tidak yang namanya tahlilan orang yang meninggal. SETAHU SAYA TIDAK ADA.
    kalo toh memang ada dalilnya yang pasti semua muslim di dunia melaksanakannya. nah ini semua cuma tradisi orang indonesia saja. seperti yang anda terang kan di hadits yang di tulis di atas, cuma ada tiga hal yang pahala dan amalannya sampai kepada si mayit. jadi di luar yang 3 tersebut tidak akan sampai pahalanya kepada si mayit. gak usah repot masalah ibadah, kalau nabi tidak mencontohkan dan tidak menyuruh secara sohih gak usah di laksanain. apa mau kamu disebut sebagai ahli bid’ah ????????
    jangan sembarangan membuat keputuskan hukum agama, jangan gampang mentyatakan boleh yang di mana rosul tidak menyuruh dan memperbolehkan.

    sekarang masalah itungan 1 hari, 3 hari, 7 hari dst. itu dari mana bisa nentuin waktu seperti itu saudaraku ?????????? rosul sendiri tidak pernah menyuruh sahabat nya untuk berbuat demikian. kenapa lo laksanain ?????
    itu semua adat orang hindu, makanya ya pasti wajarlah banyak yang ngelakuin kaya gitu. agama yang pertama masuk ke indonesia adalah agama hindu,,,,,
    benerkan ????????????????????????????

    LAKUKAN APA YANG ROSUL PERINTAH KAN, DAN CONTOH APA YANG ROSUL PERBUAT, INSYA ALLOH SELALMAT DUNIA AKHIRAT. JANGAN BERIBADAH KARENA TURUN TENURUN, ATAU KATA KIYAI AJA YANG ASAL MEMVONIS APALAGI SEKEDAR APA KATA ORANG SAJA.

    • muhammad isnaini
      April 25, 2013 pukul 3:04 pm

      ma’af ya kalau saya angkt bicara.nabi juga tidak mencontohkan atau menyuruh bersholawat kepadanya tapi di al qur’an kita disuruh untuk bersholawat kepada nabi.apakah perintah qur’an juga bid’ah.kamu tahu sejarah pernikahan sekarang ini pa tidak.pernikahan ini adalah salah satu adab dari kaum jahiliyah.kenapa nabi tidak menghilangkan adat itu.nabi adja tidak menghilangkan adat knpa kita menghilangkan adat.apa kita lebih pintar dari nabi.apa kita lebih pintar dari para ulama.kata nabi ulama itu pewaris para nabi.apa kamu menyangkal hadits itu.orang tidak bisa menyalahkan n membenarkan ajaran lain.kebenaran hanya milik allah

  9. April 17, 2013 pukul 8:31 am

    saya setuuu

  10. Icha
    April 6, 2013 pukul 11:12 am

    Tidak ada orang yg melarang dzikir kpd ALLAH.. Stau sy, shabis sholat mrupakan wkt dzikir yg pling baik.. Saya merasa paling aman melakukan aktiv. Ibadah sesuai syariat Nabi.. Tidak dengan mencampur adukan tradisi hindu ke dalam ajaran islam.. Cara kita bersedekah kpd mayit & sesuai syariat Nabi jg banyak..

  11. arul
    April 2, 2013 pukul 12:43 am

    Yang ku tau kata Umar radhiyallahu’anhu kalau orang kumpul-kumpul di rumah ahli mayit terus membuatkan makanan itu artinya meratapi mayit.

  12. Maret 28, 2013 pukul 3:20 pm

    @yusnia : afwan saya salah mengerti tulisan anti, afwan sekali lagi, saya coba menghapus komen saya tp tdk bisa

  13. Maret 28, 2013 pukul 3:13 pm

    @yusnia : sangat lemah sekali hujjah anda yg mengatakan
    “Mengenai 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, atau bahkan tiap hari, tak ada dalil
    yang melarangnya, itu adalah Bid’ah hasanah yang sudah diperbolehkan oleh
    Rasulullah saw”

    sekarang saya balik tanya pada anda, apakah membaca surat yasin pada saat rukuk atau sujud dilarang nabi? adakah dalilnya?

    perlu anda pahami 2 kaidah ini :
    1. hukum asal dari ibadah adalah haram sebelum ada perintah dari Alloh dan rosul-Nya
    2. Hukum asal muamalah itu halal sebelum ada larangan dari Alloh dan rosul-Nya

    jadi, dalam beribadah itu harus mengikuti perintah Alloh dan rosulnya bukan menunggu larangan
    sedangkan takziah 3 7 40 100 1000 tidak ada dan tidak diperintahkan pada jaman rosul masih hidup, lalu dari mana anda bilang rosul tidak melarangnya?
    kalaulah itu baik pastilah rosululloh sudah melakukannya karena rosul jelas lebih pintar,lebih alim,lebih istiqomah dari pada anda

  14. Maret 28, 2013 pukul 3:10 pm

    @yusnia : sangat lemah sekali hujjah anda yg mengatakan
    “Mengenai 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, atau bahkan tiap hari, tak ada dalil
    yang melarangnya, itu adalah Bid’ah hasanah yang sudah diperbolehkan oleh
    Rasulullah saw”

    sekarang saya balik tanya pada anda, apakah membaca surat yasin pada saat rukuk atau sujud dilarang nabi? adakah dalilnya?

    perlu anda pahami 2 kaidah ini :
    1. hukum asal dari ibadah adalah haram sebelum ada perintah dari Alloh dan rosul-Nya
    2. Hukum asal muamalah itu halal sebelum ada larangan dari Alloh dan rosul-Nya

    jadi, dalam beribadah itu harus mengikuti perintah Alloh dan rosulnya bukan menunggu larangan
    sedangkan takziah 3 7 40 100 1000 tidak ada dan tidak diperintahkan pada jaman rosul lalu bagaimana rosul melarangnya?

    • Danny
      Juli 25, 2013 pukul 12:57 pm

      Tahlilan adalah budaya agama HINDU dan BUDHA…jd jangan mencampuradukkan ajaran ISLAM dengan ajaran agama lain…ISLAM agama yg dibawa oleh NABI BESAR MUHAMMAD SALALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM…ISLAM bukan AGAMA budaya…memang zikir pada ALLAH itu baik tapi harus sesuai dengan yg diperintahkan NABI…tapi klu tahlilan itu bid’ah, jd percuma saja berzikir diupacara tahlilan tapi amalannya ditolak atau tidak diterima..

  15. subadri
    Januari 4, 2013 pukul 11:53 pm

    bagi ane sih dalam segala urusan agama pasti ada contoh dari Rasullullah,ada contoh kita ikut ga ada contoh ya ga ikut….jangan masalah sepenting itu….masuk WC aja nabi contohin..

  16. Desember 18, 2012 pukul 4:51 pm

    merdeka………..

  17. dian
    November 25, 2012 pukul 11:14 am

    Anang, yg sopan.. Ga pantas kata2 antum disandingkan dgn pembahasan d sini. Ga setuju,silahkan diam dan jalankan keyakinan anda sendiri. Yusnia, jazakillah..

  18. November 2, 2012 pukul 10:54 pm

    kalo segala sesuatu dinilai baik,menurut kita ya baik,tapi sesustu yg tidak di contohkan nabi sebaiknya kita tinggalkan,karena kita hanya mengira ngira aja menurut pikiran kita

  19. fulan
    Oktober 21, 2012 pukul 4:28 pm

    Wah kurang banyak tuh bang,,
    Pecel lele, bala-bala, gudeg jogja, perkedel, speda ontel, delman, skype, my space, kaskus juga bid’ah bang. Abang perlu blajar lagi tntang bid’ah…
    Bid’ah = sesat
    Hasanah = baik
    Bid’ah Hasanah = kesesatan yang baik??
    Bahkan anak SD pun bakalan nanya, “bang, kesesatan yang baik itu kaya gimana?”. Mo jawab apa dah?? Emang lupa bang sama hadits, “kullu bid’atin dholalah, wa kullu dholalatin finnaari”? “Stiap bid’ah adalah sesat, dan sesat itu tempatnya dineraka!”

    Soal ibadah itu hanya berdasarkan dalil yang mencontohkan bang, sampe kiamat juga ga bakalan ketemu dalil yg melarang kegiatan ini!! Tapi hati² bang, sholat magrib 25 rakaat khan lebih baik daripada 3 rakaat?? dan itu tdak ada dalil yang melarang!! Siapa saja bisa melakukannya!!

    Kami para salafi tidak pernah mengharamkan tahlil, bahkan stiap slsai shalat kami berdzikir, dan kami berdzikir sesuai dngn yg dicontohkan nabi. Yang kami persoalkan adalah kenapa tahlil ini dikhususkan untuk acara kematian 1 hari, 3 hari, 7 hari dst?? Bgaimana kalo diganti menjadi 8hari, 13hari, 27 hari dan mentok di 35 hari??

    Menurut abang penulis blog ini bararti keg. Tahlilan hukumnya adalah sunnah, dan saya mau nanya kalo ini sunnah bagaimana urutan bacaan tahlilan yang benar sesuai yang dicontohkan Rasulullah SAW?? Bukan dari ulama NU, walisongo apalagi buku panduan tahlilan yang cuma 20 halaman yang ga katauan siapa yang bikin!

  20. whina
    Oktober 11, 2012 pukul 3:11 pm

    masyaAllah membaca debat diatas ane yg belum mudeng apa apa malah jadi malu sendiri, ceritanya mau belajar mencari tau yang belum ane tau, kok malah jadi gelo gini ya

  21. September 11, 2012 pukul 5:50 pm

    astagfirullahh… yg bilang itu baru syaiton…. dh tahu kan sekarang mna syaitonnya… si anang t…

  22. beni
    Agustus 6, 2012 pukul 8:26 am

    Sudahlah kita tidak usah bertengkar masalah tahlilan ini kita serahkan kepada Allah Swt cuma saya berpikir apa manjur doanya orang yang tidak sholat apalagi shalat berjamaah kok diajak tahlilan atau doa bersama

  23. sunnah online
    Januari 2, 2012 pukul 8:28 am

    dalil SHAHIH keutamaan surat yaa siin:

    “Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Yasin pada malam hari, maka pagi harinya ia diampum oleh Allah. Barangsiapa yang membaca surat al-Dukhan, maka ia diampuni oleh Allah.” (HR Abu Ya’la).
    Menurut al-Hafizh Ibn Katsir, hadits ini sanad -nya jayyid (shahih). Komentar Ibn Katsir ini juga dikutip dan diakui oleh al-Imam al-Syaukani dalam tafsimya Fath al-Qadir

    “Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mencari ridha Allah, maka Allah akan mengampuninya,” (HR.Ibn Hibban dalam Shahih-nya).
    Hadits ini dishahihkan oleh al-Imam Ibn Hibban dan diakui oleh al-Hafizh Ibn Katsir dalam Tafsir-nya, al- Hafizh Jalahiddin al-Suyuthi dalam Tadrib al- Rawi , dan al- Imam al-Syaukani dalam tafsir Fath al-Qadir

    . Al-Syaukani berkata dalam al-Fawaid al- Majmu’ah sebagai berikut:

    “Hadits, “Barangsiapa membaca surat Yasin karena mencari ridha Allah, makaAllah akan mengampuninya diriwyatkan oleh al-Baihaqi dari Abu Humairah secara marfu’ dan sanadnya sesuai dengan kriteria hadits shahih. Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan al- Khathib. Sehingga tidak ada alasan merryebut hadits tersebut dalam kitab-kitab al-Maudhu’at (tidak benar menganggapnya sebagai haditsmaudhu’).”
    (Al-Syaukani,al-Fawaid al- Majmu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah , haL 302-303)

  24. YUSNIA
    Juni 21, 2011 pukul 2:23 pm

    ASSALAMULAIKUM
    “Mengenai 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, atau bahkan tiap hari, tak ada dalil
    yang melarangnya, itu adalah Bid’ah hasanah yang sudah diperbolehkan oleh
    Rasulullah saw, justru kita perlu bertanya, ajaran muslimkah mereka yang melarang
    orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, siapa yang alergi dengan suara Laa ilaaha
    illallah kalau bukan syaitan dan pengikutnya ?, siapa yang membatasi orang
    mengucapkan Laa ilaaha illallah?, muslimkah?, semoga Allah memberi hidayah pada
    muslimin, tak ada larangan untuk menyebut Laa ilaaha illallah, tak pula ada larangan
    untuk melarang yang berdzikir pada hari ke 40, hari ke 100 atau kapanpun, pelarangan
    atas hal ini adalah kemungkaran yang nyata.”

    Dalam hal ibadah, jangan kita mencari ada tidak larangannya. Tapi sesuai dg hadis Nabi, maka carilah ada tidak perintah/contohnya. Hukum asal ibadah adalah DILARANG, kecuali setelah ada perintah. Sebaliknya hukum asal masalah keduniaan adalah BOLEH, kecuali ada larangannya.

    dengan demikian, kita gak perlu berkata, sholat subuh 3 rokaat itu sah-sah saja, kan gak ada hadis/ayat yg melarang sholat subuh 3 rokaat. Kalau kita beribadah sekedar menggunakan akal kita, maka sholat subuh 3, 4, 5 rokaat adalah lebih bagus dan pasti diterima ALLAH swt. karena sholat subuh 2 rokaat saja bagus. apalagi 3, 4, atau 5 rokaat. ITU KALAU KITA MNGGUNAKAN AKAL SAJA.

    TAPI HADIS NABI MENEGASKAN, IBADAH TANPA ADA PERINTAH/CONTOH, MAKA DITOLAK. seTIAP IBADAH YG DIADA-ADAKAN ADALAH BID’AH. SETIAP BID’AH ADALAH SESAT. DAN KESESATAN ITU NERAKA TEMPATNYA.. NA’UDZUBILLAH…..

    maka menurut saya, kalau kita memang bimbang tentang hal ini, sebaiknya hal2 itu kita tinggalkan. itu lebih menyelamatkan. Toh “ibadah” tahlilan, yasinan, selamatan, itu hanya SUNAH. artinya kita tidak berdosa jika meninggalkannya, TAPI JIKA “IBADAH ” ITU MASUK KE RANAH BID’AH, MAKA KITA AKAN BERDOSA JIKA MELAKSANAKANNYA.

    SEBAGAIMANA PESAN NABI, TINGGALKAN HAL-HAL YANG MERAGUKAN.

    SETIAP AMALAN IBADAH, HARUS DILANDASKAN PADA DALIL YG VALID/SOHIH. DALIL DHOIF DAN PALSU TIDAK BOLEH DIJADIKAN LANDASAN MELAKUKAN AMAL IBADAH.

    COBA, BAGAIMANA SIKAP ANDA JIKA MENDENGAR, BAHWA ANDA DIPERINTAH UNTUK PERGI MENGAMBIL HADIAH, TAPI ASAL-USUL KABAR /PERINTAH ITU TIDAK JELAS, ATAU BERASAL DARI ORANG YG ANDA KETAHUI SUKA MENYEBAR BERITA BOHONG/MENIPU, DLL.
    APA ANDA AKAN MELAKSANAKANNYA??????

    IBADAH HARUS DILANDASI KEYAKINAN KEPADA ALLAH SWT, BAHWA APA YG KITA LAKSANAKAN ADALAH BETUL2 PERINTAH NABI/ALLAH SWT. TIDAK BISA KITA SHOLAT TAPI DALAM KONDISI KERAGUAN. KARENA ITU LANDASAN IBADAH HARUS KUAT/SHOHIH.

    TENTANG DALIL2 YASINAN, SELAMATAN, TAHLILAN, ADAKAH ANDA MENEMUKAN HADIST YANG SHOHIH?

    WASSALAM.

    • sunnah online
      Januari 2, 2012 pukul 8:22 am

      dalil tahlilan, selamatan jelas sekali:

      MAJELIS ZIKIR

      “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” [QS Al Ahzab 33:41]

      “Karena itu, ingatlah Aku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” [Al Baqarah:152]

      “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” [QS 13:28]

      Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berkeliling, mereka mengikuti majelis-majelis dzikir. Apabila mereka menemui majelis yang didalamnya ada dzikir, maka mereka duduk bersama-sama orang yang berdzikir, mereka mengelilingi para jamaah itu dengan sayap-sayap mereka, sehingga memenuhi ruangan antara mereka dengan langit dunia, jika para jamaah itu selesai maka mereka naik ke langit (HR Bukhari no. 6408 dan Muslim no. 2689)

      “Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: ‘Zikir yang paling utama adalah Laa ilaaha illallahu” [HR Turmudzi]

      MAJELIS ILMU

      “Barangsiapa menempuh suatu jalan mencari ilmu padanya, niscaya Alloh akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”[1]

      Inilah hakikat dari yasinan, selamatan, dsb.. majelis ilmu, majelis zikr, majelis silaturahmi, dsb

      Dan teknis pelaksanaan majelis2 tersebut tidak ada ketentuan dari Nabi sebagai mana shalat mesti sekian rakaat, waktunya sekian, tidak begitu, ketentuan zikir mudah saja:

      ….berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya…

      Maka barang siapa mempermasalahkan, apa bedanya ia dengan Bani Israil yang ketika diberi perintah mudah:

      Menyembelih sapi

      Maka mempermasalahkannya:
      -warnanya?
      -kegunaannya?
      -besarnya?
      -sosok fisiknnya?
      -umurnya?
      dsb

      maka perintah zikir menyebut nama Allah sebenranya mudah, hanya orang sekarang mempermasalahkannya dengan teknis-teknis yang sebenarnya tidak perlu.

    • faisal riza
      September 14, 2012 pukul 3:27 am

      yg bid`ah itu perbuatan manusia nye..bukan ayat nye..seperti sabda Rasulullah SAW. bila nak solat.tgok la macam mane aku solt..bila nak beramal dan beribadah tengok la macam mane aku dan sahabat2ku,

  25. yusnia
    Juni 15, 2011 pukul 3:06 pm

    “Maka pemahaman yang mesti diterima adalah para salafus shalih berinovasi mengada-adakan ibadah yang tidak pernah dicontohkan generasi sebelumnya, selama hal itu sesuai syariat”
    Bisakah dikatakan ssuai syariat jika bertentangan dg sabda nabi? SETIAP IBADAH YG DILAKUKAN TANPA ADA PERINTAH/CONTOH DARI KAMI, MAKA DITOLAK. SETIAP IBADAH YANG DIADA-ADAKAN ADALAH BID’AH. SETIAP BID’AH ADALAH SESAT.

    Bid’ah adalah dalam hal ibadah. tidak termasuk dalam pembagian hadist, sanad/perawi, sebutan r.a, dll.

    Bolehkah kita berinovasi tr\entang ibadah, sdang Allah mengatakan dg tegas, Islam sudh sempurna. Kalau kita membuat jenis ibadah baru, apakah Nabi sebagai penutup dan penyampai syaraiat lupa menyampaikan ajaran islam hingga kita perlu membuat tambahan baru?
    ataukah kita malah lebih baik dari Nabi, sehingga nabi tidak melakukan tapi kita malah demikian giatnya mrelakukan ibadah tertentu (3 hari, 7 hari, dll, yasinan, dll).

    kalau membuat inovasi ibadah diperbolehkan, mungkin gak perlu Musadeq dimusuhi dan dihukum gara2 membuat inovasi sholat 2 bahasa dg alasan agar orang paham akan apa yg dibacanya dalam sholat.

    Maaf jika ada kata yg kurang berkenan. kita berdebat hanya untuk menambah wawsan, dan usaha saling memahami.

  26. Juni 12, 2011 pukul 7:44 am

    JANGAN MEMFITNAH ORANG

    Perkataan antum: “terkesan anda begitu marahnya hingga mengatakan saudara2 kita yg tidak setuju dg acara tahlilan/yasinan dll dengan sebutan syetan. LUAR BIASA SEBUTAN INI”

    Manakah saya sebut orang yang tidak melakukan yasinan dengan sebutan syetan..?

    Perkataan saya ialah: siapa yang alergi dengan suara Laa ilaaha illallah kalau bukan syaitan dan pengikutnya ?

    JIKA SAJA SALAFUS SHALIH SEPENDAPAT DENGAN PEMAHAMAN BAHWA SETIAP IBADAH MESTI ADA DILAKUKAN NABI SEBELUMNYA

    Maka tak akan ada:

    - Dua kali adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan di masa Rasul saw, tidak dimasa Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, tidak pula di masa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan di masa Utsman bin Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bukhari hadits No.873).

    - Membagi-bagi hadits menjadi mutawatir, shahih, hasan, dhaif, munkar. Membuat-buat peruntukan masing-masing hadits

    - Membuat-buat syarat perawi hadits
    Mengkhususkan doa “radhiyallahu’anhu” pada sahabat, padahal yang diridhoi Allah tidak hanya sahabat. Nabi, tabi’in, shalihin sampai akhir zaman pun diridhoi Allah

    - Membagi-bagi tauhid menjadi tauhid “rububiyah, uluhiyah, asma wa shifat”

    - Mengada-adakan tulisan “shallallaahu ‘alaihi wa sallam” setelah nama Rasul (perintah Rasul adalah mengucapnya)

    - Membukukan Qur’an (zaman sahabat hanya ditulis, tidak dibukukan dan dikumpulkan)

    - Hadits Aisyah ra mengatakan Rasul saw tak pernah shalat malam lebih dari 11 rakaat di bulan ramadhan dan selain ramadhan

    TETAPI:

    Riwayat shahih Imam Baihaqi yg juga dari Assaaib bin Yaziid berkata bahwa sahabat melakukan di zaman Umar bin Khattab ra shalat tarawih di bulan ramadhan 20 rakaat. (Sunan Imam Baihaqy Alkubra hadits no.4393).

    Bahkan diriwayatkan bahwa hingga zaman Ali bin Abi Thalib kw mereka masih melakukannya 20 rakaat (Sunan Imam Baihaqy Alkubra hadits no.4395, 4396).

    Maka pemahaman yang mesti diterima adalah para salafus shalih berinovasi mengada-adakan ibadah yang tidak pernah dicontohkan generasi sebelumnya, selama hal itu sesuai syariat

  27. Juni 3, 2011 pukul 2:10 pm

    Ass. saudaraku.
    Membaca tulisan anda, terkesan anda begitu marahnya hingga mengatakan saudara2 kita yg tidak setuju dg acara tahlilan/yasinan dll dengan sebutan syetan. LUAR BIASA SEBUTAN INI. Semoga Allah mengampuni.
    Mengenai Acara tsb, memang menjadi pro-kontra yang tak akan selesai. semua mengklaim benar. semua memakai dalil. Tinggal kita mana yg kita yakini kebenarannya. Mana yang berdasar dalil yang shohih, mana yang berdasar dalil palsu/lemah. Mana yang dituntunkan Nabi dan para sahabat, mana yang tidak. Yang jelas Islam adalah sebuah AGAMA YG SEMPURNA. ALLAH menegaskannya dalam Al MAidah ayat 3. ALLAH SWT SENDIRI YANG MENEGASKAN. jadi tidak main2. Sempurna berarti tidak perlu tambahan atau pengurangan. sehingga tepat jika Nabi mengatakan agar kita tidak membuat ibadah2 yang tidak dituntunkan oleh NAbi. Mengapa? KARENA ISLAM SUDAH SEMPURNA. BENTUK/MACAM/CARA BERIBADAHNYA SUDAH LENGKAP. DAN SEMUANYA SUDAH DITUNTUNKAN OLEH NABI.
    Saya sendiri agak bingung juga menyikapi perbedaan2 itu. mana yg benar. Tapi saya punya pedoman. BAHWA ISLAM SUDAH SEMPURNA. semua sudah dituntunkan oleh nabi dan para sahabat. Sehingga untuk menyikapi perbedaan itu, saya ambil keputusan begini :
    1. Ketika Abu bakar, Umar, Usman meninggal, tidak ada riwayat dibacakan yasinan. apalagi 1 hari, 3 hari, 7 hari, dst.
    2. Ketika Nabi wafatpun, para sahabat tidak membacakan yasin.
    3. Kalau yasinan, kegiatan tahlilan setelah orang meninggal itu murni tuntunan Nabi, (pertanyaan saya) mengapa sahabat Nabi tidak melaksanakan ketika Nabi sendiri, Abu bakar, Umar, Usman, dll wafat. Padahal para sahabat adalah GENERASI TERBAIK ISLAM, begitu kata Nabi.
    ITULAH SAUDARAKU… HINGGA SEKARANGPUN SAYA TIDAK MENGIKUTI KEGIATAN TAHLILAN DAN YASINAN DI KAMPUNGKU. BUKAN BERARTI AKU SYETAN. AKU MUSLIM. AKU SENANG JUGA MEMBACA TAHLIL. KAN PAHALANYA BESAR. TAPI AKU BACA TIDAK SEMBARANG WAKTU DAN TEMPAT. AKU BACA SURAT YASIN JUGA, MESKI TIDAK IKUT ACARA YASINAN.
    Wass.

    • anang sunarto
      Juni 11, 2012 pukul 11:29 am

      yusnia, di mata ane, pantat kebo jauh lebih enak dilihat dari pada muka ente, he.he..

      • 456
        April 17, 2013 pukul 8:52 am

        ANANG SUNARTO, DI MATA ANE, TAI / EE KEBO JAUH LEBIH ENAK DILIHAT DARI PADA MUKA ENTE, HE.HE…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: