Beranda > FIQIH (tatacara ibadah dan hukum agama) > HUKUM MENJADI PEJABAT/ PEGAWAI

HUKUM MENJADI PEJABAT/ PEGAWAI

Bismillaahirahmaanirrahiim

Menjadi pegawai boleh saja, baik terhadap pemerintah, swasta, maupun individu, selama dia sanggup malaksanakan tugas dan kewajibannya, meski seorang muslim tidak boleh mencalonkan diri untuk sebuah jabatan yang dia sendiri tidak mempunyai kompetensi di bidang itu. Terutama untuk jabatan pemerintah atau pengadilan. Diriwayatkan:

Abu Dzar ra berkata: Wahai Rasulullah saw, tidakkah Anda memberikan satu jabatan kepadaku? Maka Rasulullah saw menepuk kedua pundakku seraya bersabda:

“Hai Abu Dzar, kamu adalah orang yang lemah dan ia (jabatan) merupakan sebuah titipan. Kelak di hari kiamat ia (jabatan) merupakan kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang MENGAMBILNYA sesuai dengan HAKnya dan MELAKSANAKAN KEWAJIBAN yang diBEBANkan kepadanya dalam jabatan itu.”

Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda:

“Hakim ada tiga, satu di surga dan dua di neraka.
(1.) Hakim yang di surga adalah seorang lelaki yang mengetahui kebenaran lalu memutuskan dengan kebenaran itu
(2.) Dan seseorang yang mengetahui kebenaran lalu dia berbuat dhalim dia berada di neraka
(3.) Dan seseorang yang memutuskan untuk manusia dengan kebodohan, dia berada di neraka

Yang lebih urgen bagi seorang muslim adalah tidak berambisi utnuk mendapatkan suatu jabatan dan berusaha mengelak, meski dia sebenarnya memiliki kompetensi.

Rasulullah saw bersabda:

“Celakalah para pejabat, Celakalah para pemimpin. Celakalah para bendahara. Hendaklah mereka membayangkan beberapa kaum yang kelak di hari kiamat ubun-ubun mereka tergantung di bintang tsuroya, menggelantung di antaralangit dan bumi, dan mereka membayangkan tidak menguasai satu jabatanpun.”

Hati-hatilah dengan jam datang-jam pulang karena ini termasuk dalam kontrak kerja/janji, sangat hati-hatilah dengan uang karena ini termasuk amanat. Hati-hatilah dengan inventaris kantor, karena suatu saat ia akan menjadi musuh yang mencari2 kesalahan2 kita sekecil, sekecil apapun kesalahan itu.

Barangsiapa menjadikan jabatan sebagai TUAN, maka jabatan itu akan menjadikannya BUDAK. Mereka yang lebih mementingkan penampilan duniawi, dia akan terhalang untuk mendapatkan pertolongan Allah swt.

Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Samurah ra berkata: Rasulullah saw bersabda kepadanya:

“Hai Abdurrahman, janganlah kamu meminta jabatan, karena jika kamu mendapatkannya TANPA MEMINTA, kamu akan mendapatkan PERTOLONGAN di atas jabatan itu. Dan jika kamu mendapatkannya karena MEMINTA, kamu akan diserahkan kepadanya.

Diriwayatkan dari Anas ra bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa meminta jabatan hakim dan untuk itu dia meminta pertolongan, maka urusan itu diserahkan kepada dirinya. Dan barangsiapa DIPAKSA untuk menjadi hakim, maka Allah swt akan MENURUNKAN MALAIKAT yang akan membimbingnya.”

Pengertian dipaksa ini termasuk juga pada situasi di mana:

tidak ada orang lain (dalam pandangannya) yang mampu melaksanakan tugas tersebut dengan baik dan bila ia sendiri tidak mau, maka kemaslahatan masyarakat akan kacau.

Al quran menceritakan kisah tentang nabi Yusuf as yang berkata kepada raja:

“Dia (Yusuf as) berkata, “Jadikanlah aku sebagai bendahara negara, sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.”( QS Yusuf 55)

HALAL DAN HARAM DALAM ISLAM, YUSUF QARDHAWI, hal 164-167

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: