Beranda > TASAWUF (penyucian hati) > PENDAPAT ULAMA TENTANG SUFI

PENDAPAT ULAMA TENTANG SUFI

PENDAHULUAN

Terdapat 3 ilmu agama yang dihukumi wajib ‘ain. Yaitu ilmu TAUHID, ilmu FIQIH. dan ilmu HATI/ TAZKIYATUN NAFS. Jumhur ulama biasa menyebut ilmu hati ini adalah ilmu TASAWUF, jadi jelas di sini ilmu tasawuf adalah ilmu tentang menata hati, bukan ilmu terbang di udara, melayang di air, dsb. Perkara banyak ahli tasawuf yang mampu melakukannya, maka itu adalah kekuasaan Allah pada hambaNya, bukan tujuan dari belajar ilmu tasawuf. Tujuan ilmu tasawuf adalah membersihkan hati..

TIGA LANDASAN UTAMA
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa ketiganya perlu dan wajib ‘ain dipelajari. Tidak bisa hanya belajar tauhid tanpa belajar fiqih, karena tidak akan bisa beribadah dengan benar, demikian juga tidak bisa hanya belajar fiqih tanpa tauhid, demikian juga haram hanya belajar tauhid dan fiqih tanpa mempelajari ilmu hati/ tasawuf, karena meskipun beribadah dengan benar, akan rusak amalnya karena riya, sombong, kikir, dll

Maka ulama mencela orang yang meninggalkan salah satu dari 3 di atas. Ulama mencela sufi tertentu karena beberapa sufi tidak mempelajari fiqih/ syariat, hanya belajar tauhid dan tasawuf. Demikian juga ulama mencela yang hanya belajar syariat/ fiqih tanpa belajar ilmu hati, karena akan rusak amalnya.

Jadi jelas di sini duduk persoalannya mengapa ulama mencela para sufi, yang dimaksud adalah sufi yang tidak belajar syariat. Ulama juga mencela ahli syariat yang tidak belajar tasawuf.

JANGAN MEMOTONG PERKATAAN ULAMA SEMBARANGAN, KARENA AKAN MERUBAH ARTI DAN MENYESATKAN UMAT!

PENDAPAT PARA ULAMA TENTANG TASAWUF/ SUFI

Terdapat golongan yang menolak tasawwuf secara total bahkan ada yang menghukum ahli sufi secara umum sebagai zindiq, sesat dan sebagainya. Dan ada pula yang menggunakan kalam Imam Syafie sebagai modal untuk menolak tasawwuf tanpa melihat kepada penilaian yang adil (iaitu pujian Imam Syafie kepada tasawwuf). Maka di sini kita bawakan pujian para ulama salafussoleh terhadap tasawwuf.

IBNU TAIMIYYAH MEMUJI TASAWWUF (tetapi adakah golongan yang taksub dan taqlid pada Ibnu Taimiyyah menukilkan kalamnya ini?) :

“Orang-orang berselisih mengenai tariqat mereka, ada yang mencela kaum sufi dan tasawwuf, lalu mereka berkata : mereka (kaum sufi) adalah ahli bid’ah dan keluar dari sunnah. Ada juga pandangan yang baik dalam hal ini yang dikutip daripada segolongan Imam atau ulama dan diikuti oleh beberapa ahli feqah dan ilmu kalam. Ada juga sebahagian orang yang berlebihan dalam menganggap mereka sebagai makhluk yang paling mulia setelah para nabi.”

Ibnu Taimiyyah berkata lagi: “DUA PIHAK PERTAMA DAN TERAKHIR ITU TERCELA ”

Beliau menambahkan : Yang benar, “MEREKA ADALAH ORANG YANG BERJUANG ATAU BERIJTIHAD UNTUK MENAATI ALLAH sebagaimana orang-orang yang berijtihad dalam mentaati ALlah.” Di antara mereka ada yang termasuk dalam SABIQIN DAN MUQORROBIN,

Ada juga yang hemat (ashabul yamin) dan ada juga yang menzalimi dirinya serta melanggar perintah (berbuat maksiat kepada) Tuhannya.

Ia juga berkata : Adapun para salikin (kaum sufi) yang lurus seperti halnya Fudhail bin Iyadh, Ibrahim bin Adham, Abu Sulaiman ad Darani, Ma’ruf bin al Karkhi, Sir As Saqathi, Junaid bin MUhammad al Baghdadi dan para pendahulu (mutaqaddimin) lainnnya dan seumpama Syeikh Abdul Qadir al Jailani, Syeikh Hammad dan Sheikh Bayan daripada Ulama kebelakangan (mutaakhirin).
(Majmu’ al Fataawa Ahmad ibn Taimiyah m/s : 516-517) ==> perlu diperhatikan pujian Ibnu Taimiyyah ini terdapat dalam bab 10 tentang sufi dan tasawuf. Maka kita bisa melihat kecurangan orang2 yang memutarbalikkan ilmu. Bab 10 ini dalam cetakan2 sebelumnya masih ada seperti aslinya, tapi dalam cetakan baru sudah DIHILANGKAN.(!) Kecurangan yang meneladani para misionaris Kristen dalam memutar balikkan dalil.

1) Imam Abu Hanifah radiyaLlahu ‘anhu (wafat 150 H) :
Seorang ahli fikir Hanafi, Al Hasfaki radiyaLlahu ‘anhu penulis kitab al Durr al Mukhtar telah mengutip; Bahawa Abu Ali ad Daqqaq radiyaLlahu ‘anhu berkata :

Saya telah mengambil thariqat ini dari Abu al Qasim an Nasr Abadi radiyaLLahu ‘anhu , beliau berkata ; saya mengambilnya dari as Syibili dari as Saqathi dari Ma’ruf al Kharkhi, dari Daud ath Tho’i dan beliau mengambil ilmu sekaligus thariqat dari Imam Abu Hanifah radiyaLlahu ‘anhu. Setiap dari mereka memuji dan mengakui keutamaan Imam Abu Hanifah radiyaLlahu ‘anhu. Kemudian Imam al Hasfaki berpendapat :
“Sungguh aneh sekali..! Bukankah para pembesar ulama itu sebagai teladanmu? Apakah mereka diragukan pengakuan kebanggaannya ? Sedang mereka adalah para imam Thariqat ini sekaligus tokoh syari’ah (feqah) dan thariqat (tasawwuf), dan tokoh yang datang setelahnya dalam perkara ini adalah para pengikutnya, dan setiap orang yang bertolak belakang dengan apa yang mereka pegang itu ditolak dan dianggap bid’ah.

AbduLlah bin al Mubarak radiyaLlahu ‘anhu berkata :
“Tidak seorangpun yang lebih patut menjadi ikutan selain Imam Abu Hanifah kerana beliau sebagai seorang imam yang bertaqwa, bersih, wara’, ‘alim dan faqih, beliau telah dibukakan kasyaf, faham, kecerdasan dan ketaqwaan yang tidak ada pada orang lain.

Imam nawawi mengatakan kepada seorang yang bercerita kepadanya ;
Aku telah datang dari Imam Abu Hanifah, beliau mengatakan : “Engkau telah datang dari penduduk bumi yang sangat ahli ibadah. Daripada sinilah kita dapat mengetahui bahawa para Imam Mujtahid dan ulama yang ‘amilin mereka itu sebenarnya adalah orang-orang sufi”
(Hasyiyah Ibn Abidin m/s 395-396)

2) Imam Malik radiyaLlahu ‘anhu (wafat 179H)
Imam Malik berkata :
“Barangsiapa yang MEMAHAMI FIQIH TANPA BERTASAWUF MAKA FASIQ, dan BARANGSIAPA YANG BERTASAWWUF TANPA MEMAHAMI FIQIH MAKA ZINDIQ dan barangsiapa yang telah menghimpun antara keduanya bererti ia telah merealisasikan kebenaran (Hasyiyah Allamah al Adawi, Sheikh Ali al Adawi jilid 3 m/s 195)

3) Imam Asy Syafie (wafat 204H)
Imam Asy Syafie berkata
” Saya telah suhbah dengan kaum Shufi selama 10 tahun, kemudian hanya mendapatkan pelajaran dua huruf , dalam satu riwayat, imam Syafi’i mendapat 3 ilmu/ tiga ungkapan :

i. Waktu itu umpama pedang, jika engkau tidak menggunakannya maka ia akan menebasmu.
ii. Nafsumu jika tidak kau sibukkan dengan yang haq (benar), maka ia menyibukkanmu dengan bathil (salah).
iii. Rasa ketiadaan daya (merasakan wujud kebesaran ALlah) itu keselamatan (terpelihara) dirimu.

(Tahqiq Haqiqah Aliyah, Sheikh al Hafiz Al Suyuti, m/s 15)

Berkata Imam Syafi’e lagi :
Aku cinta kepada dunia kalian itu tiga :
a) Tidak berlebih-lebihan (sederhana)
b) Bergaul kepada orang dengan lemah lembut.
c) MENELADANI CARA TOKOH-TOKOH BERTASAWUF
(Kasyful Khafa’, Imam Al Ajluni, jld 1, m/s 341)

4) Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 241H)
Pada awalnya sebelum Imam Ahmad bersuhbah (bersahabat) kepada orang shufi berkata kepada puteranya :
“Wahai puteraku berpeganglah kepada Hadith, jauhilah mereka yang menamakan dirinya sufi, kerana boleh salah satu daripada mereka itu seorang yang bodoh terhadap hukum-hukum agama.”

Namun ketika beliau terlah bersuhbah dengan Abu Hamzah al Baghdadi as Sufi dan mengetahui keadaan mereka, beliau berkata kepada puteranya :

“Wahai puteraku, engkau HARUS BERMUJALASAH (duduk bersama-sama) DENGAN KAUM SUFI, karena mereka telah menambahkan ilmu, muraqqabah, takut kepada Allah, zuhud dan ketinggian semangat kita”
(Kasyful Khafa’, Imam al Ajluni, jld 1, m/s 341)

Telah berkata Imam Muhammad as Safaraini al Hanbali daripada Ibrahim bin AbduLlah al Qalansi ; Bahawa Imam Ahmad telah berkata tentang kaum Sufi ;

“AKU TIDAK MENGETAHUI ORANG YANG LEBIH UTAMA DARIPADA MEREKA (SUFI). Lalu ditanyakan; Mereka itu melantunkan nasyid, kemudian saling hanyut diri. Beliau menjawab : “BIARKAN MEREKA BERGEMBIRA SESAAT BERSAMA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA”.
(Manzumatul Adab, jilid 1 m/s 120)

5) Imam Abu AbduLlah al Harits al Muhasibi (wafat 243H)
Dalam kitab al Wasaya merupakan salah satu kitab induk ahli tasawwuf yang diakui, beliau berkata tentang pengalaman mujahadahnya yang pahit untuk mendapat hak (ALLah) sehingga mendapat petunjuk ke jalan Tasawwuf dan pada tokohnya , :
… Maka ALlah menghubungkanku kepada satu golongan hamba-Nya yang aku dapatkan pada mereka tanda-tanda ketaqwaan, wara’ dan pengutamaan kehidupan akhirat atas dunia, seta aku mendapatkan bimbingan dan pesan-pesan mereka yang bersesuaian dengan pendapat para Imam umat…
(Kitab al Wasoya, Imam al Muhasibi, m/s 27-32)

6) Imam al Izz bin Abdus Salam (wafat 660H)
Sultan ulama ‘Izzuddin bin Abdus salam berkata :
“ORANG-ORANG SUFI ITU TELAH MEMBANGUN LANDASAN DI ATAS KAIDAH SYARI’AH YANG TIDAK MENGHANCURKAN DUNIA DAN AKHIRAT. Sedangkan selain mereka berdiri di atas rusum (zahir sahaja). Peristiwa karomah serta khwariqul adat yang terjadi di tangan mereka dapat dijadikan sebagai dalil kebenarannya. HAL ITU BAHAGIAN DARI KEDEKATAN ALLAH SERTA RIDHONYA PADA MEREKA .

7) Imam an Nawawi (wafat 676H)
Imam an Nawawi berkata dalam kitabnya al Maqasid :

Prinsip asas Thariqat Tasawwuf itu ada lima :
– Taqwa kepada Allah di saat sendiri dan bersama orang ramai. Untuk merealisasikan ketaqwaan ini adalah dengan menanamkan sifat wara’ dan istiqamah.
– Mengikuti sunnah dalam perkataan dan perbuatan. Untuk merealisasikannya dengan menjaga (sunnah) dan berakhlaq mulia.
– Berpaling dari makhluk di saat bersama dan berpisah (maksudnya hatinya hanya bergantung kepada Allah dalam susah dan senang). Untuk merealisasikannya dengan menanamkan sabar dan tawakkal.
– Redha kepada Allah kepada yang sedikit dan banyak. Untuk merealisasikan redha kepada Allah dengan menanamkan akhlaq qana’ah dan menyerah diri (tafwidh)
– Kembali kepada Allah dalam susah dan senang. Dan merealisasikannnya dengan memanjatkan puja dan puji dan syukur kepada Allah apabila mengalami kesenangan dan sabar serta mengadu kepada Allah apabila dalam kesulitan.
(Maqasid al Imam an Nawawi fi at Tauhid wa al Ibadah wa Usul at Tasawwuf m/s 20)

Dari:

http://salafytobat.wordpress.com/2010/03/29/pujian-ulama-terhadap-tasawwuf/

==================================================

Saya sampaikan bahwa tulisan ini adalah tanggapan kami terhadap tulisan bahwa SUFI ITU SESAT dari blog:

http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2010/01/07/kesesatan-ajaran-sufi/

Maka entah kenapa jika ingin komentar terhadap tulisan itu, komentar saya  DITUTUP. Sudah dua kali ini ditutup. Padahal saya membawa dalil dari Qur’an, hadits, dan fatwa ulama. Ini adalah perilaku menyembunyikan ilmu. Maka  dicurigai bahwa penulis blog itu menjerumuskan orang yang awam dalam ilmu agama, ia tidak berani berdiskusi kepada orang yang membawa dalil, beraninya hanya mempropaganda kepada orang2 yang awam ilmu agama.

Maka bahaya sekali yang ia lakukan, ia telah mengajak orang untuk berfatwa sesat kepada ribuan-jutaan orang sufi. Padahal kita menyebut satu orang saja sesat (padahal ia tidak sesat), maka kita akan dihukumi oleh Allah sebagai orang yang sesat. Siapa lagi kita meminta pertolongan jika ALlah sudah menyebut kita orang sesat? Maka waspadalah terhadap situs2 semacam ini.

Iklan
  1. Maret 27, 2018 pukul 2:04 am

    TOLONG BACA SERIUS DI BWH INI SOBAT! !! SEGERA BERTOBATLAH DARI KESALAHAN KALIAN SEBELUM AJAL MENJEMPUT MU !!!

    Media Islam Salafiyyah, Ahlussunnah wal Jama’ah

    almanhaj.or.id

    BOBROKNYA WIHDATUL WUJUD/HULULIYAH/MENYATUNYA ALLAH PADA MAKHLUK
    DARI ILMU TASAWUF/ILMU KALAM/FILSAFAT YAHUDI

    Oleh
    Ustadz Muhammad Ashim bin Musthofa

    HAKIKAT KEYAKINAN WIHDATUL WUJUDDAN PELOPORNYA

    Keyakinan wihdatul wujud, merupakan pemahaman ilhadiyah (kufriyah) yang muncul setelah dipenuhi dengan keyakinan hulul. Yaitu, dalam istilah Jawa disebut manunggaling kawula lan gusti. Artinya, bersatunya makhluk dengan Tuhan, pada sebagian makhluk. Tidak ada keterpisahan antara keduanya. Muaranya, segala yang ada merupakan penjelmaan Allah Azza wa Jalla. Tidak ada wujud selain wujud Allah. Hingga akhirnya berpandangan, tidak ada sesuatu pun di alam semesta ini, kecuali Allah. Pemikiran sesat seperti ini, tidak lain kecuali berasal dari keyakinan Budha dan kaum Majusi.[1]

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, bahwa mereka (orang-orang yang berkeyakinan dengan aqidah wihdatul wujud) telah melakukan ilhad (penyimpangan) dalam tiga prinsip keimanan (iman kepada Allah, RasulNya dan hari Akhirat). Menurut Syaikhul Islam, dalam masalah iman kepada Allah, mereka menjadikan wujud makhluk merupakan wujud Pencipta itu sendiri. Sebuah ta’thil (penghapusan sifat-sifat Allah) yang sangat keterlaluan.[2]

    Pemahaman seperti ini sungguh sangat nista dan kotor. Karena, konsekwensinya berarti seluruh keburukan, binatang-binatang najis, kejahatan, iblis, setan dan perihal buruk lainnya merupakan jelmaan Allah. Maha Suci Allah dari perkataan orang-orang mujrimin (berbuat kejelekan).

    Keyakinan seperti inilah yang menjadi landasan aqidah Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin ‘Arabi Abu Bakr al Hatimi. Dia lebih dikenal dengan nama Ibnu ‘Arabi [3]. Lahir tahun 560 H di Andalusia dan meninggal tahun 638 H. Menurut adz Dzahabi, ia (Ibnu ‘Arabi) sebagai kiblat orang-orang yang menganut paham aqidah wihdatul wujud [4]. Simak dua bait syair yang tak pantas ini :

    Tidaklah anjing dan babi kecuali sesembahan kami
    Dan bukanlah Allah, kecuali seorang pendeta di gereja! [5]

    Lebih jauh Syaikhul Islam menjelaskan bahwa, keyakinan seperti ini diadopsi dari pemikiran para filosof, seperti Ibnu Sina dan lain-lain. Yang kemudian dikemas dengan baju Islam melalui tasawuf. Kebanyakan terdapat dalam kitab al Kutubul Madhnun biha ‘Ala Ghairi Ahliha.[6]

    SYUBHAT SEPUTAR UNGKAPAN KUFUR IBNU ‘ARABI
    Kitab Fushulul Hikam dan al Futuhat al Makkiyah, dua karya Ibnu ‘Arabi yang sangat terkenal ini, sarat dengan perkataan-perkataan tentang wihdatul wujud, penafian perbedaan antara Khaliq (Pencipta) dengan makhlukNya, dan penetapan penyatuan antara keduanya. Sangat jelas, dari dua buku ini, betapa rusak aqidah penulisnya dan orang-orang yang mengikutinya.

    Sebagai contoh, misalnya dalam sebuah penggalan syairnya, Ibnu ‘Arabi berkata:

    الْعَبْدُ رَبٌّ وَالرَّبُّ عَبْدٌ يَا لَيْتَ شِعْرِيْ مَنِ الْمُكَلَّفُ

    Hamba adalah Rabb, dan Rabb merupakan hamba
    Aku bingung, siapa gerangan yang menjadi mukallaf.

    Ia juga mengatakan :

    عَقَدَ الْخَلَائِقُ فِيْ الْإلِه عَقَائِدَ وَأَنَا اعْتَقَدْتُ جَمِيْعَ اعْتَقَدُوهُ

    Semua makhluk berkeyakinan tentang ilah (sesembahan) dengan berbagai keyakinan
    Dan aku berkeyakinan (tentang ilah) dengan seluruh yang mereka yakini itu.[7]

    Begitu juga dengan perkataannya :

    Dia menyanjungku, aku pun memujiNya
    Dia menyembahku, dan aku pun menyembahNya.

    Dalil yang ia catut untuk mendukung argumentasinya, yaitu firman Allah dalam an Nur/24 ayat 39 :

    وو جد الله عنده

    “Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya”.

    Juga dengan mengusung hadits palsu berikut :

    مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ

    “(Barangsiapa mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Rabb-nya)”.

    Mengenai argumentasi yang dibawakan ini, Dr. Ghalib ‘Awaji memberikan komentar : “Ini merupakan istidlal (pengambilan dalil) yang sangat aneh dan mungkar yang diucapkan oleh seseorang. Bagaimana mungkin mengatakan al Qur`an dan Sunnah mengajak ilhad dan kekufuran kepada Allah? Oleh karenanya, Ibnu Taimiyah mengatakan, kekufuran mereka lebih parah daripada kekufuran Yahudi dan Nashara serta kaum musyrikin Arab” [9]. Adapun Ahlu Sunnah menetapkan, sebagaimana dikatakan Ibnul Abil ‘Izz rahimahullah [10] : “Ahlu Sunnah bersepakat, tidak ada sesuatu pun menyerupai Allah, baik pada dzatNya, sifatNya maupun af‘al (perbuatan-perbuatan)Nya”.

    Mengenai keimanan kepada hari Akhir, Ibnu ‘Arabi berpendapat, bahwa penghuni neraka juga merasakan kenikmatan di neraka, sebagaimana yang dinikmati oleh penghuni jannah di jannah. Karena adzab (yang berarti siksaan), disebut demikian, lantaran kenikmatan rasanya (‘udzubatu tha’mihi, dari kata adzbun yang berarti lezat).

    Sementara itu, tentang keimanan kepada para rasul, penganut wihdatul wujud juga melakukan penodaan yang tidak ringan terhadap gelar terhormat para rasul. Menurut mereka, penutup para wali Allah itu lebih berilmu daripada penutup kenabian. Mereka berpendapat, para nabi -termasuk pula Nabi Muhammad- mengambil ilmu dari celah wali terakhir.

    Tentu, pendapat seperti ini, sangat jelas melanggar nash-nash agama dan cara berpikir yang . Seperti sudah dimaklumi, orang yang datang di akhir, ia akan mengambil manfaat dari orang yang berada di depannya. Bukan sebaliknya. Dalam perspektif agama, wali Allah yang paling utama, ialah orang-orang yang mengambil ilmu dari nabi yang mulia. Dan wali Allah yang paling mulia dari umat ini adalah, orang-orang shalih yang menyertai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman:

    “Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mu’min yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula”. [at Tahrim/66 : 4].

    Menurut kesepakatan para imam salaf dan khalaf, wali Allah yang paling afdhal adalah Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu kemudian ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu.

    Berbeda dengan pandangan orang-orang mulhid tersebut (Ibnu Arabi dkk), mereka lebih mengutamakan ahli filsafat ketimbang seorang nabi. Ibnu ‘Arabi sendiri mengatakan : “Sesungguhnya penutup para wali mengambil langsung dari piringan logam yang diambil oleh malaikat untuk diwahyukan kepada nabi”. Pernyataan ini sangat nampak pelanggarannya terhadap al Kitab, as Sunnah dan Ijma’.[11]

    MِEREKA LEBIH BODOH DARI FIR’AUN [12]
    Orang-orang yang mengklaim telah mencapai tingkatan tahqiq, ma’rifah, dan wilayah yang memegangi aqidah wihdatul wujud, asal-muasal perkataan mereka merujuk pernyataan Bathiniyah, dari kalangan kaum filosof, Qaramithah dan semisalnya. Mereka sejenis dengan Fir’aun, namun lebih bodoh darinya. Fir’aun, memang sangat keras pengingkarannya, tetapi ternyata, ia tetap meyakini keberadaan Pembuat alam semesta (Allah) yang berbeda dengan alam semesta. Fir’aun memperlihatkan pengingkaran, tidak lain karena demi meraih kharisma, dan bermaksud menunjukkan jika perkataan Musa sama sekali tidak ada hakikatnya. Lihat al Qur`an surat al Mu’min/40 ayat 36-37.

    Sedangkan penganut wihdatul wujud, meski meyakini adanya Pembuat alam semesta ini, tetapi mereka tidak menetapkan wujudNya yang berbeda dengan alam ini. Mereka berpendapat, wujudNya sama dengan wujud alam semesta. Bahkan menjadikan Dia menyatu dengan alam semesta. Sungguh suatu pandangan batil yang sangat menyimpang. Bagaimana mungkin al Khaliq sama dengan makhlukNya dari segala sisi? Allah berfirman:

    “… Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. [asy Syura/42 : 11].

    Al Imam ath Thahawi mengatakan: “Persangkaan-persangkaan tidak bisa sampai kepada (hakikat)Nya. Pemahaman-pemahaman pun tidak akan mencapai (hakikat)Nya”. Ibnu Abil ‘Izzi menambahkan pernyataan al Imam ath Thahawi ini dalam syarahnya dengan mengatakan : “Dan Allah Ta’ala tidak diketahui bagaimana dzatNya, kecuali Dia sendiri Subhanahu wa Ta’ala . Kita mengenalNya hanyalah melalui sifat-sifatNya” [14]. Syaikhul Islam juga mengatakan : “Aqidah yang dibawa para rasul dan yang termuat pada kitab-kitab yang Allah turunkan, serta sudah menjadi kesepakatan Salaful Ummah dan para tokohnya, yaitu penetapan pencipta yang berbeda dengan ciptaannya, dan Dia berada di atasnya (ciptaanNya)”. [15]

    Demikian ditinjau dari aspek agama (dalil). Sedangkan dari aspek aqli (logika), sungguh tidak mungkin pencipta menyerupai yang dicipta. Apalagi kalau semua makhluk adalah juga pencipta. Tentu sangat mustahil.

    PENGUSUNG AQIDAH WIHDATUL WUJUD LAINNYA
    Selain Ibnu ‘Arabi, ada beberapa tokoh yang ikut mengusung pemikiran wihdatul wujud. Di antaranya adalah Ibnul Faridh. Dalam kumpulan syairnya yang populer, yaitu Ta`iyyah, ia mengungkapkan hakikat aqidahnya. Dia menyatakan dirinya sebagai mumatstsil kabir lillah (penjelma Allah yang besar) dalam sifat dan perbuatanNya.

    Abdul Qadir al Jili, penulis kitab al Insanul Kamil, guru Abdul Qadir al Jailani. Dalam salah satu selorohannya, ia berkata : “Dan sesungguhnya aku adalah Rabb bagi alam. Dan penguasa seluruh manusia itu sebuah nama. Dan akulah orangnya”.

    Abu Hamid al Ghazali, dalam kitab Ihya` Ulumuddin, saat menjelaskan maratibut tauhid (tingkatan-tingkatan tauhid) yang keempat, ia mengatakan : “Tingkatan tidak melihat dalam alam ini kecuali satu wujud saja”.

    Untuk menjawab kebingungan orang yang mempermasalahkan bagaimana bisa dikatakan satu, padahal banyak hal yang terlihat dan berbeda-beda? Maka ia menjawab: “Ketahuilah, itulah puncak mukasyafat dan rahasia-rahasia ilmu. Tidak boleh dituangkan dalam sebuah kitab. Orang-orang yang arif berkata,’Membeberkan rububiyah adalah kufur’.”

    Jawaban ini mengandung tuduhan kepada Allah dalam menjelaskan aqidah, karena secara implisit dari jawabannya berarti Allah belum menerangkannya dengan sejelas-jelasnya, demikian juga Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. tidak diketahui kecuali orang-orang yang sudah mencapai tingkatan kasyf dalam wacana sufi. [16]

    Jalaluddin ar Rumi, penyair dari Persia (Iran) ini, dalam kumpulan puisinya yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Arab, ia mengatakan: [17]

    Bila di dunia ini ada orang mukmin, orang kafir atau pendeta Nashrani, maka aku adalah dia.
    Aku hanya punya satu tempat ibadah, baik itu masjid, gereja ataupun candi.

    WIHDATUL AD-YAN (PENYATUAN AGAMA-AGAMA) SALAH SATU KONSEKWENSI DARI WIHDATUL WUJUD
    Dengan pemikiran yang telah dipaparkan di atas, keyakinan Wihdatul Wujud, juga melahirkan wacana, yang kini telah digagas para pengekornya, yaitu usaha untuk mempersatukan agama-agama. Sebuah anggapan bahwa semua agama adalah benar, memiliki tujuan yang sama. Yaitu menyembah tuhan yang sama, hanya berbeda dalam cara. Pandangan sesat seperti ini, tidak diragukan lagi merupakan kekufuran yang sangat nyata.[18]

    Tak ayal, pemikiran ini mendapat sambutan yang sangat luar biasa dari kalangan Orientalis dan musuh-musuh Islam lainnya. Karena, pada gilirannya berarti semua keyakinan adalah benar, tidak ada perbedaan antar-manusia. Seluruh agama kembali kepada satu keyakinan, karena semuanya jelmaan dari Tuhan.

    Dikatakan oleh Allen Nicholson, diantara konsekwensi pemikiran wihdatul wujud, yaitu pernyataan mereka tentang kebenaran semua aqidah dalam agama-agama, apapun bentuknya.

    Lebih jauh ia mengatakan : “Sebenarnya al Ghazali lebih toleran terhadap sebagian sufi Wihdatul Wujud, semisal Ibnu ‘Arabi dan lain-lainnya dari kalangan sekte sufi yang menjadi kawan-kawan kami dalam agama liberal itu, dengan seluruh maknanya”.[19]

    Sudah pasti Islam berlepas diri dari pemikiran yang sangat menyimpang ini. Pemikiran ini telah mencampur-adukkan antara yang benar dan batil. Sehingga dapat menyebabkan hilangnya identitas kaum Muslimin, meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar, dan jihad di jalan Allah.

    Oleh karena itu, kaum Orientalis memberikan perhatian yang besar terhadap keyakinan rusak ini. Yaitu dengan lebih memperdalam mengkaji tentang tashawwuf. Karena, tashawwuf ini mendukung sebagian tujuan mereka. yakni untuk melupakan kaum Muslimin dengan ajaranya, dan juga unutk memecah-belah kaum Muslimin. Dengan pemikiran Wihdatul Wujud, orang-orang Orientalis merasa memiliki sarana yang tepat untuk menyebarkan berbagai kekufuran.

    KISAH ORANG YANG BERTAUBAT DARI AQIDAH IBNU ‘ARABI
    Ibnu Taimiyah rahimahullah mengisahkan : Ada seseorang yang tsiqah (terpercaya) telah bertaubat dari mereka. Ketika ia mengetahui rahasia-rahasia mereka, maka ada (penganut wihdatul wujud) yang membacakan buku Fushul Hikam karya Ibnu ‘Arabi.

    Orang yang tsiqah ini berkata : “Bukankah ini menyelisihi al Qur`an”.
    Orang itu menjawab,”Memang al Qur`an semuanya berisi kesyirikan. Tauhid hanya ada pada pernyataan kami saja,”

    Maka ia (orang yang tsiqah ini) kembali bertanya : “Kalau semua itu sama saja, mengapa putrimu diharamkan atasku, sementara istriku halal untukku?”.
    Orang itu menjawab,”Dalam pandangan kami, tidak ada bedanya antara istri dan anak perempuan. Semua halal (untuk dinikmati).” [20]

    Itulah sekilas tentang pemikiran Wihdatul Wujud. Masih banyak fakta-fakta sesat lainnya yang dilakukan oleh tokoh-tokoh pemikir ini. Bisa dijumpai dalam kitab-kitab yang mengkritisi alirah tashawwuf secara umum. Sebagian sudah ada yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Tema ini diketengahkan, supaya seorang muslim sadar dan berhati-hati terhadap aqidah yang sesat ini.
    Wallahul hadi ila shirathil mustaqim.

    Maraji :
    – Ar Risalah ash Shafadiyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H), tahqiq Abu Abdillah Sayyid bin ‘Abbas al Hulaimi dan Abu Mu’adz Aiman bin ‘Arif ad Dimasyqi, Adhwau as salaf, Riyadh, Cetakan I, Th. 1423H.
    – Bayanu Mauqifi Ibnil Qayyim min Ba’dhil Firaq, Dr. ‘Awwad bin Abdullah al Mu’tiq, Maktabah ar Rusyd, Riyadh, Cetakan, III, Th. 1419H.
    – Da’watut-Taqribi Bainal Ad-yan, Dr. Ahmad bin Abdir Rahman bin ‘Utsman al Qadhi, Darul Ibnil Jauzi, Dammam, Cetakan I, Th. 1422H.
    – Firaq Mu’ashirah Tantasibu Ilal Islam, Dr. Ghalib ‘Awaji. Al Maktabah al ‘Ashriyyah adz Dzahabiyyah Jeddah. Cet. V. Th. 1426 H – 2005 M.
    – Hadzihi Hiyash Shufiyah, Abdur Rahman al Wakil, tanpa penerbit dan tahun.
    – Syarhul ‘Aqidatith-Thahawiyah, ‘Allamah Ibnu Abil ‘Izz al Hanafi, tahqiq sejumlah ulama, takhrij Syaikh al Albani, al Maktabul Islami, Beirut, Cetakan IX, Th. 1408H.

    [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi (07-08)/Tahun X/1427/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
    _______
    Footnote
    [1]. Firaq Mu’ashirah, halaman 994.
    [2]. Ar Risalah ash Shafadiyah, halaman 247.
    [3]. Agar tidak timbul salah persepsi, perlu dibedakan antara Ibnu ‘Arabi dengan Ibnul ‘Arabi. Nama yang kedua diawali dengan alif lam ta’rif (Ibnu al ‘Arabi). Beliau adalah seorang ulama Malikiyah yang terkenal, dengan nama lengkap Abu Bakr Muhammad bin ‘Abdillah t (468-543 H). Di antara karyanya, Ahkamul Qur`an.
    [4]. Dinukil dari Da’watut Taqrib, 1/339.
    [5]. Dinukil dari Hadzihi Hiyash Shufiyah, halaman 64.
    [6]. Ar Risalah ash Shafadiyah, halaman 265. Kitab tersebut milik al Ghazali.
    [7]. Fushushul Hikam, halaman 345. Dinukil dari Da’watut Taqrib, 1/386.
    [8]. Al Fushush, halaman 83. Dinukil dari Hadzihi Hiyash Shufiyah hlm. 43.
    [9]. Firaq Mu’ashirah 3/994
    [10]. Syarhul ‘Aqidatit-Thahawiyah, halaman 98.
    [11]. Ar Risalah ash Shafadiyah, 251.
    [12]. Ar Risalah ash Shafadiyah, Ibnu Taimiyah, 262.
    [13]. Maqamat (tingkatan-tingkatan religi) dalam perspektif kaum Sufi.
    [14]. Syarhul ‘Aqitatith-Thahawiyah, halaman 117.
    [15]. Ar Risalah ash Shafadiyah, halaman 263.
    [16]. Firaq Mu’ashirah Tantasibu Ilal Islam, 3/1002. Penulis kitab ini menukil keterangan Syaikh Abdur Rahman al Wakil perihal taubat al Ghazali yang berbunyi : “As Subki berupaya membebaskan peran al Ghazali (dalam aqidah ini) dengan dalihnya, bahwa ia (al Ghazali) menyibukkan diri dengan al Kitab dan as Sunnah di akhir hayatnya. Namun demikian, kaum Muslimin harus tetap diperingatkan dari warisan-warisan pemikiran al Ghazali yang terdapat pada kitab-kitab karyanya”. Hadzihi Hiyash Shufiyah, halaman 52. Pembahasan tentang Imam al Ghazali, pernah kami angkat pada edisi 7/Th. VI/1423H/2002M.
    [17]. Dinukil dari Da’watut Taqrib (1/388-389).
    [18]. Lihat Mauqifu Ibnil Qayyim, halaman 141; Hadzihi Hiyash Shufiyah, halaman 93; Da’watut Taqrib, 1/381-405.
    [19]. Fit Tashawuf al Islami, Dinukil dari Hadzihi Hiyash Shufiyah, 50.
    [20]. Ar Risalah ash Shafadiyah, halaman 247.

  2. Januari 8, 2013 pukul 3:01 pm

    Trimakasih atas pembelaan terhadap kaum sufi. Saya mewakili para paham sufi mngucapkan banyak rrima kasih atas terbitan saudara

  3. Februari 27, 2012 pukul 2:11 am

    ISI DUNIA INI BERAGAM MESKIPUN AGAMANYA SAMA, PEMAHAMAN SESEORANG TERHADAP AGAMANYA TERGANTUNG MASUKAN YANG IA DAPAT SELAMA IA BELAJAR, LALU MEMIKIRKAN MASUKAN ITU, MERENUNGKAN LALU MENGAMBIL KESIMPULAN YANG PADA AKHIRNYA AKAN KEMBALI KEPADA PRIBADI MASING-MASING.

  4. Juni 9, 2010 pukul 9:23 am

    Imam Malik adalah ulama salaf. Tabi’it tabi’in, karena beliau belajar dari para tabi’in. Dan Imam Abu Hanifah juga Tabi’it Tabi’in dan itulah pendapat mereka.

    Maka adakah kita umat sekarang mengikuti golongan salaf… atau menentangnya seraya memotong sebagian dan mendustakan fatwa mereka…

  5. dokter Anak
    Juni 8, 2010 pukul 2:53 pm

    Ada kajian di Masjid Al Furqon, timur UNS,tiap Selasa. cobalah hadir dan berbincang dengan pemberi materi disana bila berkenan. atau buka website Islam:www.muslim.or.id

    Dalam melaksanakan setiap ibadah ada 2 hal yang harus dipenuhi : ikhlas dan ittiba’ (sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasul). Tidak ada cara lain untuk kita bisa mengikuti apa yang diajarkankan Rasul kecuali mengikuti sahabat(yang jelas2 diajari oleh Rasululloh) dan orang2 yang mengikutinya(sahabat) sepeninggalnya.

    Ilmu dien atau fiqih tidak bisa diambil dari kemantapan hati nurani, atau pendapat orang perorang, kecuali dari yang orang yang mengikuti ulama terdahulu (generasi sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in karena mereka adalah generasi terbaik umat ini…saya lupa haditsnya). Itupun jika kita mengambil pendapatnya, kita harus berusaha mencari dasar hadits&atsar sahabat tentang pendapat tersebut. Dikhawatirkan jika mengikuti pendapat orang perorang atau hati nurani, seringnya dipengaruhi oleh hawa nafsu, mengambil yang cocok dan melupakan yang tidak cocok atau sesuai dengan hati nurani kita.

    • Juni 9, 2010 pukul 10:18 am

      Saya faham maksud Anda. 🙂

      Sayangnya orang yang sering mengajak kepada orang lain untuk mengikuti manhaj salaf. Kadang mereka ini hakikatnya tidak mengikuti manhaj salaf. Hanya mengikuti pendapatnya sendiri.

      Maka jika ada nash yang lebih kuat yang bertentangan dengan pendapat mereka, mereka menolaknya. Bisa menghapusnya, membloknya, dsb. Contoh nyata adalah yang sudah beberapa kali saya alami. Jika ingin komentar terhadap tulisan mereka, komentar saya DITUTUP, DIHAPUS. Kadang saya di blacklist tidak bisa komentar lagi. Orang2 yang komentarnya kasar dan tidak pantas (tapi tidak membawa dalil), tidak dihapus. Tapi komentar saya dihapus. Padahal saya membawa dalil dari Qur’an, hadits, dan fatwa ulama. Ini adalah perilaku menyembunyikan ilmu. Maka dicurigai bahwa orang2 seperti itu menjerumuskan orang yang awam dalam ilmu agama, ia tidak berani berdiskusi kepada orang yang membawa dalil, beraninya hanya mempropaganda kepada orang2 yang awam ilmu agama.

      Bahkan benar-benar terjadi, kitab2 klasik karya ulama terdahulu dipalsu isinya untuk mendukung pendapat mereka.

      • project
        Maret 21, 2012 pukul 1:07 am

        Pada awalnya saya berpikir di dunia nyata saja sudah cukup membuat pusing dengan adanya orang-orang yang saling menjelekkan, ternyata di dunia maya yang rata2 saling memvonis, menjelekkan, bahkan saling mengejek, membuat saya sadar dengan realitas kehidupan yang memang sudah Allah bilang “Jikalau menghendaki Tuhan engkau sungguh akan menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa orang-orang yang berselisih, kecuali orang yg dirahmati Tuhan engkau. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.(……)” [Q.S.Hud:118-119]

        Sebaiknya kita memang lebih fokus pada perbaikan diri karena kabar datangnya Imam Mahdi harusnya mendorong kita mengambil pelajaran dari keingkaran Ahli Kitab tatkala Allah mendatangkan Rasulullah Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam, padahal sebelum kedatangannya mereka menunggu-nunggu. Salah satu penyebabnya Allah bilang “(…)telah berlalu atas mereka masa yang panjang, maka mengeras qulub mereka(…)” [Q.S.Al-Hadiid:16]

        Insya Allah dengan lebih banyak koreksi diri dan seruan kepada Allah dan sunnah Rasulullah juga lebih kita fokuskan pada orang2 yang masih awam tadi, mudah-mudahan Allah akan mempersatukan orang-orang beriman dalam satu jama’ah yaitu jama’ah kaum muslimin seluruh dunia dibawah SATU kepemimpinan KHALIFAH.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: